Sejak Perry Warjiyo Jabat Gubernur BI, Rupiah Kian Dekati Rp14.500

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 03 Juli 2018 11:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 03 278 1917098 sejak-perry-warjiyo-jabat-gubernur-bi-rupiah-kian-dekati-rp14-500-Rl6GZraNmb.jpeg Foto: Gubernur BI Perry Warjiyo (Yohana/Okezone)

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo resmi dilantik pada 24 Mei 2018. Sejak itu, dia telah dua kali memimpin Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.

Perry pun telah menaikkan 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-Day RR Rate) sebanyak dua kali.

Tercatat pada 30 Mei 2018, Perry menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps dan hari ini bank sentral kembali menaikkan bunga sebesar 50 bps. Dengan demikian, selama masa kepemimpinan Perry, suku bunga acuan BI sudah naik 0,75%.

Suku bunga acuan kini berada di level 5,25% dari 4,75%. Adapun suku bunga Deposit Facility (DF) pada level 4,5% dan Lending Facility (LF) pada level 6%, berlaku efektif sejak 29 Juni 2018.

 Wajah Semringah Perry Warjiyo Usai Sumpah Jabatan Pelantikan Gubernur Bank Indonesia

Walau demikian, nilai tukar Rupiah tampaknya terus mengalami tekanan. Mengacu kurs Jisdor BI, Rupiah berada pada level Rp14.205 per USD pada 24 Mei 2018, yakni sejak Perry resmi dilantik. Sementara pada 3 Juli, Rupiah kian terpuruk ke posisi Rp14.418 per USD.

Sementara menurut Yahoofinance, Rupiah berada pada posisi Rp14.169 per USD pada 24 Mei. Pada 3 Juli, mata uang garuda berada di Rp14.428 per USD.

 Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan  50 Basis Poin Menjadi 5,25 Persen

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai bahwa, efek kenaikan suku bunga acuan sifatnya temporer. Bhima juga menuturkan, sentimen itu masih kalah dengan sentimen global.

"Meskipun di atas ekspektasi pelaku pasar karena naik 50 bps, belum mampu menguatkan kurs Rupiah sesuai target," kata Bhima.

 Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin

Kondisi ini, kata dia, menjadi peringatan bahwa bunga acuan tidak bisa dijadikan solusi tunggal penguatan kurs rupiah. Harus ada kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur dan tepat sasaran.

Bhima mencontohkan, kombinasi kebijakan fiskal dan moneter tersebut misalnya membuat paket tentang stabilisasi kurs dengan perbanyak insentif bagi sektor penguat devisa.

"Jadi bentuknya harus lintas sektoral sehingga dampak ke penguatan Rupiah langsung terasa," kata dia.

 

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini