Pasokan Arab Saudi dan Rusia Meningkat Bikin Harga Minyak Anjlok

ant, Jurnalis · Selasa 03 Juli 2018 07:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 07 03 320 1917023 pasokan-arab-saudi-dan-rusia-meningkat-bikin-harga-minyak-anjlok-p3NZn2sbYd.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

NEW YORK - Minyak berjangka turun pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena pasokan dari Arab Saudi dan Rusia meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi di Asia tersendat di tengah meningkatnya perselisihan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Kesibukan pengumuman selama akhir pekan membuat pasar minyak tak menentu. Minyak mentah Brent turun 2,4% dalam sesi tersebut, mengubah arah dari minggu lalu ketika naik lebih dari lima persen.

Patokan globak, minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun USD1,93 menjadi ditutup pada USD77,30 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun USD 0,21 menjadi menetap di USD73,94 per barel di New York Mercantile Exchange.

 

Premi minyak mentah AS untuk bulan depan dibandingkan dengan bulan kedua melebar menjadi sebanyak USD2,38 per barel, terbesar sejak 20 Agustus 2014. Gerakan ini menunjukkan pasar memperkirakan kekurangan pasokan menjadi lebih parah dalam jangka pendek.

Penyedia informasi Genscape mengatakan persediaan minyak mentah AS di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma, jatuh pada pekan ini, kata para pedagang. Genscape mengatakan stok di pusat pengiriman tersebut turun 3,2 juta barel dalam seminggu yang berakhir 22 Juni, tetapi naik sedikit dalam empat hari berikutnya hingga 26 Juni.

Persediaan di Cushing turun, sebagian karena penutupan di Kanada. Produksi di fasilitas ladang minyak Syncrude Kanada dekat Fort McMurray, Alberta, kemungkinan akan tetap offline setidaknya hingga Juli, juru bicara Suncor Energy Inc menegaskan kembali pada Selasa.

"Tampaknya ada ketidakpastian besar tentang berapa banyak minyak akan ditambahkan ke sisi pasokan pasar," kata Wakil Presiden Riset Tradition Energy di Stamford, Connecticut, Gene McGillian

Hal ini mengacu pada berapa banyak kapasitas cadangan Saudi akan mampu mengimbangi kekurangan di seluruh dunia.

 

Presiden AS Donald Trump men-tweet bahwa Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi telah setuju untuk memompa lebih banyak minyak, "mungkin hingga 2.000.000 barel." Gedung Putih kemudian menarik kembali komentar tersebut.

Produksi Arab Saudi naik sebesar 700.000 barel per hari (bpd) dari Mei, survei Reuters menunjukkan, dan mendekati rekor 10,72 juta barel per hari dari November 2016.

Produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkat 320.000 barel per hari pada Juni, menurut survei Reuters yang dipublikasikan Senin (2/7/2018). Ke-12 anggota OPEC dengan target pengurangan pasokan meningkatkan produksi sebesar 680.000 barel per hari dibandingkan dengan Mei.

 

Produksi Rusia naik menjadi 11,06 juta barel per hari pada Juni dari 10,97 juta barel per hari pada Mei. Demikian laporan Kementerian Energi.

Produksi AS telah melonjak 30% dalam dua tahun terakhir, menjadi 10,9 juta barel per hari, yang berarti tiga produsen minyak terbesar dunia sekarang menghasilkan hampir 11 juta barel per hari, memenuhi sepertiga dari permintaan minyak global.

Juga membebani permintaan minyak adalah perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat dan ekonomi-ekonomi besar lainnya termasuk Tiongkok, Uni Eropa, India dan Kanada.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini