Rupiah Rp14.400/USD, Komisi XI Bakal Panggil Gubernur BI Perry Warjiyo?

Feby Novalius, Jurnalis · Kamis 05 Juli 2018 09:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 07 05 278 1918146 rupiah-rp14-400-usd-komisi-xi-bakal-panggil-gubernur-bi-perry-warjiyo-ydIDqIlnbd.jpg Foto: Gubernur BI Perry Warjiyo (Feby/Okezone)

JAKARTA - Mitra kerja Bank Indonesia (BI) yakni Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belum berencana memanggil khusus Gubernur BI Perry Warjiyo terkait terus melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang sekarang berada di level Rp14.400 per USD.

Menurut Anggota Komisi XI Hendrawan Supratikno, DPR terus berkomunikasi secara informal dengan BI ataupun pemerintah. Selain itu, pembahasan pelemahan Rupiah juga dikomunikasikan dalam Focus Group Discussion (FGD) lintas mitra.

"Jadi tidak perlu rapat kerja khusus dengan topik tersebut (Rupiah). Nanti salah-salah sudah dianggap darurat. Ini kan masih terkelola," ujarnya kepada Okezone.

 Wajah Semringah Perry Warjiyo Usai Sumpah Jabatan Pelantikan Gubernur Bank Indonesia

Meski begitu, kata Hendrawan, DPR meminta BI dan pemerintah untuk bisa terus mengawasi tekanan eksternal. Pasalnya, pelemahan Rupiah ini bisa membuat khawatir pasar.

"Dalam jangka menengah, tiga hal penting harus kamu kita lakukan yaitu menekan defisit transaksi berjalan, memerangi ekonomi biaya tinggi dan meningkatkan tax ratio agar tidak tergantung utang," tuturnya.

 Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan  50 Basis Poin Menjadi 5,25 Persen

Dihubungi terpisah, Anggota Komisi XI Willgo mengatakan, DPR sudah menanyakan secara terbuka kepada BI dan pemerintah, apakah pelemahan Rupiah ini bersifat sementara karena adanya kebijakan AS atau tidak,

"Pemerintah tampaknya masih yakin bahwa kondisi ini sesaat, dan menemukan keseimbangan baru," tuturnya.

 Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin

Menurut Willgo, memang harus kita sadari bahwa di luar pelemahan nilai tukar Rupiah, sebenarnya ada kondisi internal yang rentan karena defisit neraca pembayaran berjalan.

"Impor lebih besar terhadap ekspor. Selain cash out flow kita karena pelaku pasar modal khususnya asing lebih merespons positif kenaikan The Fed," ujarnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini