Bos BCA: Suku Bunga Acuan BI Berpotensi Naik 200 bps hingga Akhir 2019

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 09 Juli 2018 21:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 09 20 1920097 bos-bca-suku-bunga-acuan-bi-berpotensi-naik-200-bps-hingga-akhir-2019-k8DODwV5YA.jpg Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja (Foto:Yohana)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-7 Days Reverse Repo Rate sebesar 100 basis points (bps) pada bulan Mei dan Juni menjadi 5,25%.

Kebijakan pengetatan moneter ini dipilih Bank Sentral menyusul kenaikan Fed Fund Rate (FFR) atau suku bunga acuan Bank Sentral AS, The Fed yang sebesar 25 bps pada Juni menjadi di kisaran 1,75% hingga 2,00%. Kenaikan ini pun menjadi yang kedua dari perkiraan pasar 3-4 kali di 2018. Sementara di 2019, FFR pun diprediksi berpotensi naik 2-3 kali.

Kenaikan FFR pada akhirnya berimbas memukul kurs mata uang negara lainnya, termasuk Rupiah yang kini menembus level Rp14.000 per USD. Sehingga pengetatan moneter dinilai perlu dilakukan.

Direktur PT Bank Central Asia Tbk ( BCA) Jahja Setiaatmadja menyatakan, potensi kenaikan FFR saat ini diprediksi pasar akan terjadi 4 kali lagi hingga akhir 2019. Di mana pada 2018 kenaikan FFR diprediksi akan terjadi pada bulan September dan Desember.

Dengan melihat potensi 4 kali lagi kenaikan FFR, maka menurutnya, Bank Sentral berpotensi menyesuaikan kenaikan 200 bps hingga akhir 2019.

"FFR akan naik September dan Desember, tahun depan bisa 2-3 kali.

Rupiah itu kan kalu lihat gearing ratio, setiap kali 0,25% (25 bps) harusnya kita naik 0,5% (50 bps). Memang kalau mereka naik 4 kali lagi, kita naik 2% (200 bps) lagi sampai tahun depan," ungkapnya di Gedung Menara BCA, Jakarta, Senin (9/7/2018).

Dia menilai, kenaikan suku bunga acuan memang harus dilakukan untuk menyelamatkan Rupiah dari tekanan global. Pasalnya, pelemahan Rupiah dapat berimbas pada kestabilan ekonomi dalam negeri yang hingga kini memiliki tingkat impor yang tinggi.

"Kalau kita enggak naikin bunga acuan, yang terkena kurs. Kan kita impor, bahan baku itu kan, kita semua masih banyak impor, mau itu buat konsumsi dalam negeri maupun untuk akhirnya di ekspor," jelasnya.

Disisi lain, era suku bunga tinggi memang sedang berlangsung di seluruh dunia. Tak hanya AS, namun Bank Sentral Eropa (Europe Central Bank/ECB) juga akan menaikkan suku bunga, meski dikatakan ECB akan lebih bersabar dalam mengetatkan moneter.

"Kalau enggak dinaikkan agak berat. Eropa sudah mau naikin, juga AS sudah pasti naik. Secara dunia harus naik," katanya.

 (feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini