Ditjen Pajak Tak Khawatir Penerimaan Masih di Bawah 50%

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 10 Juli 2018 21:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 10 20 1920596 ditjen-pajak-tak-khawatir-penerimaan-masih-di-bawah-50-c1OpD3Oi2n.jpeg Acara Ngobrol Santai di Ditjen Pajak (Foto:Giri Hartomo)

JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat penerimaan hingga kini semester I-2018 mencapai Rp581,54 triliun. Angka tersebut baru mencapai 40,84% dari target Rp1.424 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018.

Sedangkan target penerimaan negara tahun ini ditargetkan sebesar Rp1.894 triliun dalam postur APBN 2018. Banyak yang mengkhawatirkan target penerimaan negara tidak akan tercapai, sebab hingga pertengahan tahun penerimaan pajak belum mencapai setengahnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan, meskipun belum menyentuh angka 50% atau setengah dari target penerimaan pajak tahun ini, namun dirinya mengaku tidak khawatir kekurangan penerimaan alias shortfall . Dirinya bahkan optimis jika target penerimaan negara dari perpajakan bisa mencapai target dan bisa tumbuh diangka 17-18%.

Hal tersebut bukan tanpa alasan. Sebab dirinya mengaku optimis jika penerimaan pajak pada semester II-2018 ini akan bisa menutupi kekurangan penerimaan pada semester I-2018 ini.

"Kami sedangan mengarah bisa dilevel 17-18% bahkan lebih kalau memungkinkan," ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat DJP, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Hari Ini Batas Pelaporan SPT Wajib Pajak 2017

Apalagi lanjut Robert, ada beberapa kebijakan yang dilakukan untuk mengejar pembayar pajak baru. Salah satunya adalah dengan menurunkan pajak untuk UMKM dari 1% menjadi 0,5%.

Menurut Robert, meskipun angkanya turun, namun hal tersebut justru bukan berarti nominal pendapatan lewat Perpajakan ikut turun. Justru menurutnya, dengan kebijakan tersebut akan menarik pembayar pajak baru meskipun secara nominal tidak sebesar waktu-waktu yang lalu.

"Peningkatan pelayanan, pengawasan dilakukan mudah-mudahan bisa meningkatkan kepatuhan perpajakan. Jadi seharusnya akhir tahun bisa mengejar pertumbuhan sebesar 17%-18%," ucapnya.

Mengenai kemungkinan akan membuka kembali program pengampunan pajak (tax qmnesty) Robert memilih untuk tidak akan melakukannya. Sebab menurutnya, program pengampunan ini hanya berpengaruh sedikit saja, sebab masih ada beberapa wajib pajak yang belum membayarkan kewajibannya pasca tax amnesty.

Hari Ini Batas Pelaporan SPT Wajib Pajak 2017

Selain itu, jika terlalu sering dilakukan, maka kepatuhan pembayar pajak akan semakin menurun. Sebab, wajib pajak menganggap jika pemerintah tidak tegas dalam menegakan pembayaran perpajakan.

"Karena pengaruh Tax Amnesty makin mengecil dari penerimaan. Tapi sepanjang kami maintain, pertumbuhan penerimaan seperti semester I, tentu pengaruh pertumbuhan ekonomi, kegiatan ekonomi dan administrasi kita," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Potensi dan Kepatuhan dan Penerimaan Pajak Ditjen Pajak Kementerian Keuangan Yon Arsal mengatakan, pihaknya sama sekali tidak khawatir akan kekurangan angka penerimaan perpajakan alias shortfall di 2018. Sebab jika angka tersebut kurang, akan bisa ditutupi dengan pendapatan dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) 

"Kita tidak aekhawatir tahun sebelumnya, shortfall sedikit bisa ditambal oleh PNBP yang tinggi," ucapnya.

(feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini