nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Faisal Basri: Pejabat Jangan Beternak Dolar AS

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 11 Juli 2018 18:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 07 11 278 1921021 faisal-basri-pejabat-jangan-beternak-dolar-as-MKN7OupCa4.jpg Foto: Pejabat Jangan Beternak Dolar AS (Yohana/Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan. Selain dengan kebijakan moneter menaikkan suku bunga acuan Bank Indonesia, peran pemilik dolar AS juga penting untuk melepas mata uang tersebut ke pasar.

Hal ini diungkapkan Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri dalam acara diskusi mengenai stabilitas kurs Rupiah terhadap ekonomi di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Faisal megungkapkan, dalam kondisi saat ini psikologis masyarakat Indonesia cenderung melakukan pembelian dolar AS. Hal ini mengingat kurs dolar AS yang terus menguat, memukul mata uang lainnya, di samping keputusan The Fed, Bank Sentral AS yang akan terus diprediksi melanjutkan kenaikan suku bunga acuannya hingga tahun depan.

"Psikologis masyarakat Indonesia, menghadapi kondisi seperti sekarang, kalau bicara dengan teman-teman itu dolarnya sudah banyak, mereka malah beli dolar dalam kondisi sekarang," katanya di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

 Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin

Tak hanya itu, lanjutnya, mantan petinggi negara maupun pejabat saat ini juga menyimpan kekayaannya dalam bentuk dolar AS. Padahal penting bila mereka berkontribusi dengan melepas dolar AS untuk menjaga likuiditas mata uang Paman Sam di pasar tetap terjaga.

"Contohnya saya ingat Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dulu waktu jadi presiden itu 64% kekayannya dalam dolar. Yang saya inget juga Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) sekarang dolarnya USD100 ribu lebih. Pak Moeldoko (Kepala Staf Kepresidenan) saya ingat USD200 ribu. Ini bukan gosip, ini adalah LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat), kita semua bisa lihat," paparnya.

Oleh sebab itu, menurutnya tak perlu pejabat menyimpan dananya dalam bentuk dolar AS. Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta untuk mengimbau pejabat negara mau melepas dolar AS ke pasar.

"Buat apa sih pejabat itu berternak dolar. Artinya kan dia tidak percaya pada komitmen pemerintahya sendiri. Pak Jokowi kekayaan dolarnya praktis enggak ada, nah Pak Jokowi imbau para pejabat, menteri-nya," katanya.

Kondisi penggunaan dolar AS yang besar di dalam negeri juga terlihat dengan banyaknya kasus korupsi menggunakan mata uang tersebut.

 Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Terdepresiasi 50 Poin

Faisal menyatakan, stabilisasi kurs Rupiah tak bisa hanya dilakukan oleh Bank Sentral saja, di mana instrumennya terbatas pada kenaikan suku bunga acuan ataupun intervensi pasar valas dan Surat Berharga Negara (SBN).

"Jadi ini jangan BI terus yang berjuang, BI enggak bisa atasi sendiri, ini kan masalah bangsa, jadi tolong deh, ini harus berjuang bersama-sama," katanya.

Untuk diketahui, BI telah menaikkan suku bunga acua sebanyak 100 basis points (bps) ke level 5,25%. Kebijakan tersebut untuk menekan pelemahan Rupiah terhadap dolar AS. Beradasarkan kurs tengah BI (Jisdor), Rupiah hari ini berada di level Rp14.391 per USD.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini