Industri Farmasi Tertekan Akibat Murahnya Harga Obat BPJS

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 11 Juli 2018 19:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 11 320 1921075 industri-farmasi-tertekan-akibat-murahnya-harga-obat-bpjs-OVMLTIKAtk.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), pemerintah mengatur harga obat agar dapat dijangkau dengan daya beli masyarakat. Kendati demikian, kondisi tersebut di sisi lain justru membebani pelaku industri farmasi.

Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Vincent Harijanto mengatakan, industri farmasi tengah tertekan karena obat BPJS telah ditetapkan pemerintah dengan harga yang jauh lebih murah.

 

Di sisi lain, industri farmasi tidak dapat gegabah menaikkan harga obat, bahkan di tengah penguatan dolar Amerika Serikat, mengingat bahan bakiu obat 95% impor. Sebab hal tersebut dikhawatirkan akan sulit bersaing dengan obat BPJS.

“Karena BPJS ini sudah ada ketetapan harga jual oleh industri farmasi. Jadi tidak bisa diubah tidak bisa dinaikkan. Itu yang membuat sulit. Makanya saya bilang tadi mungkin saja ada (industri yang menaikkan harga obat), tapi apakah berani semena-mena menaikkan harga?” katanya di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Dia menjelaskan, dalam bekerjasama untuk pengadaan obat BPJS, tidak semua industri farmasi memenangkan tender. Vincent mencontohkan, seperti jenis paracetamol, hanya ada satu industri yang memenangkan tender untuk BPJS.

“Mereka juga harus menyadari di luar BPJS itu ada produk-produk yang sama. Karena BPJS ini kan bukan di supply dari semua industri, yang menang cuma satu. Yang lain tetap produksi (obat juga),” katanya.

 

Dalam kondisi pelemahan rupiah, kenaikan harga merupakan opsi alternatif yang dapat ditempuh oleh industri farmasi. Kendati demikian, untuk tetap bersaing dengan obat BPJS, industri farmasi lebih memilih melakukan opsi lain yakni efisiensi, sehingga dengan adanya efisiensi, industri farmasi tetap dapat bertahan.

“Meskipun mereka belinya (bahan baku) lebih mahal, tapi karena efisiensi, mereka bisa mempertahankan harga bahkan justru menekan harga. Setiap industri saya rasa punya strateginya masing-masing,” katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini