Sri Mulyani : Sebagai Tulang Punggung, Pajak Mesti Dipelihara Agar Tak Bongkok

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Sabtu 14 Juli 2018 10:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 14 20 1922217 sri-mulyani-sebagai-tulang-punggung-pajak-mesti-dipelihara-agar-tak-bongkok-HjMnRV6dlm.jpeg Upacara Hari Pajak di DJP (Foto:Yohana)

JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menggelar upacara dalam rangka memperingati Hari Pajak yang jatuh pada hari ini di lapangan Kantor DJP, Jakarta.

Dalam upacara ini Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati berperan menjadi pembina upacara. Hadir pula Wakil Menkeu Mardiasmo dan Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan. Selain itu nampak hadir Menteri Koodinator Bidang Perkonomian Darmin Nasution sebagai tamu undangan.

Seluruh peserta pajak yang juga terdiri pegawai DJP hari ini senada mengenakan baju berwarna hitam putih, dengan kerudung berwarna merah bagi wanita yang memakai berhijab dan dasi merah bagi pria.

Dalam pidatonya, Sri Mulyani menjelaskan, pentingnya peran perpajakan bagi pembangunan dan berkelanjutan Republik Indonesia. Menurutnya dalam menyusun Undang-Undang Dasar 45 (UUD 45) para pendiri bangsa bercita-cita membuat Indonesia bersatu, berdaulat, adil dan makmur bagi masyarakat. Hal itu tentu sudah terpikirkan cara mewujudkannya bersamaan saat penyusunan dasar negara tersebut, salah satunya dengan perpajakan.

"Pendiri bangsa paham pajak harus diatur dalam konstitusi. Ini kontrak sosial antara negara dengan masyarakat. Di mana segala pajak diperuntukkan keperluan negara berdasarkan undang-undang," jelasnya, Jakarta, Sabtu (14/7/2018).

Dengan demikian, pajak menjadi tulang punggung negara untuk tetap kokoh dan kuat. Mengingat pajak berkontribusi 83% dari total penerimaan negara.

"Seperti tubuh, bila tulang punggung tidak dipelihara maka akan jadi rapuh bongkok, dan lambat laun dapat menjadi kelumpuhan. Begitu pula konstitusi perpajakan melumpuhkan sendi-sendi negara Indonesia," jelas Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Dia menjelaskan kata 'pajak' sendiri pertama kali muncul 14 Juli 1945 saat disusun oleh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada saat negara Indonesia hampir lahir ke dunia.

Hari Ini Batas Pelaporan SPT Wajib Pajak 2017

"Menyambut gembira 14 Juli yang harus diperingati tiap tahun sebagai hari pajak. Peringatan ini akan terus menjadi tonggak untuk kita menjalankan tugas konstitusional," ujarnya.

Bendahara Negara ini mengharapkan Hari Pajak tak hanya bergaung di internal perpajakan, melainkan di seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga Hari Pajak bisa menjadi momentum untuk mensosialisasikan pentingnya peran pajak membangun negara kepada masyarakat.

"Melalui adanya Hari Pajak terus mensosialisasikan ke pada masyarakat, khususnya kepada kaum muda mengenai peran pajak dalam membangun dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.

(feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini