Bappenas: Pembangunan Manusia Berkarakter dari Menghargai Keberagaman

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Jum'at 27 Juli 2018 14:13 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 27 320 1928180 bappenas-pembangunan-manusia-berkarakter-dari-menghargai-keberagaman-d1TFRzcIPt.jpg Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Perencanaan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, salah satu prioritas nasional dalam RPJMN 2015-2019 adalah pembangunan manusia yang tidak hanya melihat manusia sebagai sumber daya pembangunan tetapi juga sebagai insan yang berkarakter.

"Reformasi mental menjadi salah satu upaya untuk memastikan masyarakat Indonesia menjadi manusia yang lebih baik, yang patuh terhadap hukum, dan memiliki rasa toleransi dalam bermasyarakat dan lingkungan yang majemuk," kata Bambang dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (27/6/2018).

Menurut Bambang, progres dari pembangunan masyarakat tersebut salah satunya dituangkan dalam Indeks Pembangunan Masyarakat (IPMas) dengan variabel yang digunakan antara lain: toleransi, gotong royong, dan rasa aman.

 Bambang Brodjonegoro Bicara dalam Diskusi Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia

Sebagai ukuran yang menggambarkan pembangunan manusia dan masyarakat, kata Bambang, IPMas dibangun dengan kohesi sosial, inklusi sosial, dan pengembangan kapasitas masyarakat sipil.

Di tingkat provinsi, tercatat DI Yogyakarta menempati posisi tertinggi (0,70), sedangkan terendah adalah Papua (0,51). Hal ini menunjukkan masyarakat Di Yogyakarta konsisten menjaga harmoni dalam Keberagaman.

Hal ini disampaikan dalam Bambang dalam menyampaikan pidato kunci dalam Seminar Nasional Harmoni dalam Keberagaman" Kamis 26 Juli 2018 di Grand Ballroom Hotel Tentrem Yogyakarta. Dalam seminar yang diselenggarakan Keluarga Alumni SMA Kolose de Britto Yogyakarta Bambang mengatakan pentingnya memberikan penghargaan pada keberagaman.

"Masyarakat Indonesia perlu terus menghargai keberagaman dan perbedaan, mengukuhkan solidaritas sosial dan daya rekat di antara sesama, membangun harmoni sosial dengan memberikan pengakuan terhadap keunikan dan identitas khusus yang melekat pada setiap kelompok berbeda," jelasnya.

Namun seiring berjalannya era desentralisasi dan otonomi daerah, serangkaian persoalan mengemuka seperti menguatnya sentimen primordial dan identitas kedaerahan.

 Bambang Brodjonegoro Bicara dalam Diskusi Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia

Dalam konteks ini, menurut Bambang, pembangunan, khususnya bidang kebudayaan harus tetap memberi ruang yang cukup bagi tumbuhnya nilai-nilai lokal, pengakuan atas keunikan lokalitas, dan keragaman budaya daerah, yang menemukan saluran artikulasi melalui otonomi dan desentralisasi.

Berbagai keunikan lokal dan identitas kedaerahan harus ditransformasikan menjadi pilar utama dalam menopang bangunan negara bangsa majemuk dalam suatu consensus nasional dalam wujud NKRI.

Persoalan muncul dengan menguatnya kecenderungan intoleransi dan diskriminasi yang diperkuat dengan semakin pudarnya sikap menghormat keragaman dan kemampuan mengelola perbedaan, padahal karakter dan kepribadian Indonesia adalah bangsa majemuk.

Hal ini perlu segera direspons melalui langkah kongkret yang diarahkan untuk meredam ekspresi intoleransi dalam bentuk permusuhan, diskriminasi, dan tindakan kekerasan terhadap pihak lain, termasuk menumbuhkan sikap individu dan kelompok masyarakat untuk bersedia hidup bersama dalam sebuah komunitas yang beragam dan mengedepankan nilai-nilai utama: toleran, terbuka, inklusif, bersih, disiplin, produktif, dan inovatif.

 

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini