Pacu Ekspor Pesawat Terbang demi Raup Devisa

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis · Kamis 02 Agustus 2018 21:44 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 02 20 1931056 pacu-ekspor-pesawat-terbang-demi-raup-devisa-CTfESxiX2a.jpg Ilustrasi Pesawat Terbang (Foto: Okezone)

JAKARTA - Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor pesawat terbang untuk menambah devisa. Guna mewujudkannya, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Marolop Nainggolan menggelar pertemuan teknis dengan tema “Peluang Dan Potensi Ekspor Pesawat Udara Indonesia.

Terang dia, hal ini untuk menunjukkan potensi ekspor pesawat terbang ke beberapa negara. “Pesawat terbang buatan Indonesia sudah banyak diekspor ke mancanegara dan masih bisa terus ditingkatkan,” ujar Marolop lewat keterangan resmi kepada SINDOnews di Jakarta, Kamis (2/8/2018).

Melihat Lebih Dekat Pembuatan Pesawat NC212i di Hanggar PT Dirgantara Indonesia

Pertemuan teknis ini menghadirkan narasumber dari PT Dirgantara Indonesia, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. Selain itu, pertemuan ini dihadiri perwakilan kementerian lembaga terkait seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertahanan, dan Kementerian BUMN.

Dalam pertemuan teknis ini disampaikan bahwa sampai tahun 2017 PT Dirgantara Indonesia telah membuat sebanyak 431 unit pesawat terbang. Tipe yang paling banyak dipesan antara lain NC212i sebanyak 110 unit, helikopter NBO105 sebanyak 122 unit, dan saat ini sedang dikembangkan jenis CN 235, pesawat terbang kecil dengan kapasitas 40 pak.

Melihat Lebih Dekat Pembuatan Pesawat NC212i di Hanggar PT Dirgantara Indonesia

Pertemuan tersebut mengemuka beberapa hambatan yang ditemui negara calon pembeli, seperti tidak cukupnya dana buyer untuk melakukan pembayaran dan peraturan yang mengharuskan pembelian dilakukan melalui agen setempat. Hambatan lainnya adalah adanya negara yang terkena sanksi PBB dan permintaan buyer untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan.

PT Dirgantara Indonesia juga menyampaikan adanya rencana pembelian dari buyer Nigeria, namun masih terkendala sistem pembayaran. Hal ini disebabkan oleh permintaan buyer agar pembayaran dilakukan melalui counter purchase yakni pembayaran melalui pihak kedua yang dilakukan rekanan Indonesia. “Melalui pertemuan ini diharapkan diperoleh informasi mengenai hambatan, tantangan, serta masukan terkait peluang ekspor pesawat terbang Indonesia,” pungkas Marolop.

(feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini