nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemilik Rumah Sakit Mayapada Rugi Rp46,9 Miliar pada Semester I-2018

Agregasi Senin 06 Agustus 2018 13:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 06 278 1932424 pemilik-rumah-sakit-mayapada-rugi-rp46-9-miliar-pada-semester-i-2018-j71amLKGLH.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Emiten pemilik jaringan rumah sakit Mayapada, PT Sejahteraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) mencatatkan kinerja keuangan yang kurang memuaskan.

Pasalnya, bila sepanjang tahun lalu masih rugi, di paruh pertama tahun 2018 juga belum lepas dari derita rugi. Berdasarkan informasi laporan keuangan yang dirilis perseroan di Jakarta, kemarin disebutkan, perseroan mencatatkan rugi mencapai Rp46,97 miliar.

Kerugian itu naik sebesar 11,73% dari semester I tahun lalu dengan total rugi bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat senilai Rp42,04 miliar.

 

Padahal, pendapatan emiten bersandi saham SRAJ itu mencatatkan pertumbuhan sebesar 20,45%, yakni dari Rp301,09 miliar pada semester I-2017 menjadi Rp362,68 miliar pada semester I-2018.

Hanya saja, beban emiten pengelola Mayapada Hospital ini meraup terus meningkat. beban langsung SRAJ pada semester I-2018 mencapai Rp280,55 miliar, naik sebesar 13,15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp247,94 miliar.

Adapun beban penjualan naik sebesar 21,67% dari Rp3,31 miliar menjadi Rp4,03 miliar, serta beban umum dan administrasi naik 21,72% dari Rp94,34 miliar menjadi Rp114,83 miliar.

 

Jumlah aset perusahaan yang berada di bawah naungan Mayapada Group ini per akhir Juni lalu tercatat mencapai Rp2,57 triliun, naik sebesar 19,53% dibandingkan posisi per akhir tahun lalu senilai Rp2,15 triliun.

Perseroan mengungkapkan, salah satu faktor yang membuat rugi pada 2017 adalah kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 11,20% menjadi Rp 519,80 miliar. Pada 2016 beban pokok tercatat sebesar sebesar Rp 467,46 miliar. Padahal sepanjang 2017 pendapatan usaha SRAJ meningkat 9,63% dari sebelumnya Rp 576,18 miliar di sepanjang 2016 menjadi Rp 631,06 miliar pada 2017.

 

Disebutkan, pendapatan tertinggi usaha didorong oleh kenaikan pendapatan usaha obat-obatan sebesar 11,18% menjadi Rp 215,95 miliar pada 2017 dibandingkan dengan 2016 sebesar Rp 194,23 miliar. Sedangkan pendapatan usaha dari rawat inap naik 9,17% dari sebelumnya Rp 184,74 miliar di sepanjang 2016 menjadi Rp 201,68 miliar pada 2017.

Sebelumnya, perseroan mengakuisisi Bogor Medical Center (BMC). Menurut analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar, penggabungan dua rumah sakit ini akan berimbas positif.

Salah satu yang akan membaik adalah struktur utang kedua perusahaan. Dirinya mencatat, BMC saat ini memiliki rasio utang atau debt to equity ratio (DER) yang cukup tinggi yakni 2,7 kali. “Ada potensi gagal bayar,” tuturnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini