nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BEI Tolak Rencana Reverse Stock Ratu Prabu Energi, Ini Alasannya

Agregasi Rabu 08 Agustus 2018 13:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 08 278 1933496 bei-tolak-rencana-reverse-stock-ratu-prabu-energi-ini-alasannya-JKGy7YBulZ.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Sejatinya dalam rangka mendongkrak pertumbuhan likuiditas harga saham di pasar, PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) bakal melakukan penggabungan nilai saham (reverse stock) dengan rasio 1:10 untuk saham seri A dan seri B. Namun aksi korporasi tersebut mendapat penolakan dari investor dan termasuk pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Direktur BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, penolakan reverse stock yang akan dilakukan Ratu Prabu Energi karena fundamentalnya tidak cukup dan penolakan persetujuan tersebut telah disampaikan kepihak perusahaan,

“Untuk reverse stock alasan fundamentalnya musti kuat," ujarnya.

 

Nyoman mengatakan, saat ini fundamental ARTI tidak mendukung kenaikan saham dari perusahaan tersebut sehingga bursa tak mendukung aksi korporasi tersebut meski dalam dua kuartal terakhir fundamental ARTI bisa dibilang cukup baik.

Menurut Nyoman, untuk melihat fundamental perusahaan, BEI harus melihat secara jangka panjang. Hal ini menurutnya juga sangat tergantung pada individu perusahaan dan juga manajemen perusahaan tersebut.

Sebelumnya, ARTI berencana untuk melakukan reverse stock dengan rasio 10:1. Perseroan, nantinya akan menggabungkan nilai saham seri A yang semula Rp500 per saham menjadi Rp5.000 per saham.

Untuk saham seri B yang semula Rp100 per saham menjadi Rp1.000 per saham. Sementara itu, saat ini saham perusahaan masih menetap di harga Rp50 per saham. Jika reverse stock dilakukan maka harga saham perusahaan akan meningkat menjadi Rp500 per sahamnya.

 

Selain untuk menyetujui aksi korporasi dalam agenda RUPSLB pada 29 Agustus mendatang, perusahaan juga akan meminta persetujuan menambah anak usaha dan kegiatan di bidang infrastruktur dan transportasi.

Penambahan anak usaha ini terkait dengan rencana perusahaan untuk melakukan pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jabodetabek sepanjang 485 kilometer dengan nilai proyek mencapai Rp415 triliun. Mei lalu perusahaan telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandumof Understanding/MoU) dengan tiga perusahaan dalam rangka kerja sama operasi membangun proyek tersebut.

Perseroan memperikirakan pendapatan akan tumbuh menjadi Rp300 miiar di akhir tahun ini dan laba ditargetkan akan tumbuh menjadi Rp30 miliar-Rp40 miliar. Pertumbuhan tersebut ditunjang bisnis geothermal dan produksi emas perusahaan.

Direktur Utama Ratu Prabu Energi Burhanudin Bur Maras pernah bilang, perusahaan akan memulai produksi emas dalam waktu 2-3 bulan mendatang dengan perkiraan produksi sebanyak 1 kilogram per bulannya,

”Tambang di Kalimantan Tengah milik kami akan mulai produksi, masih sedikit produksinya karena masih baru sekitar 1 kilogram sebulan," ujarnya.

Sementara itu, saat ini perusahaan tengah menggarap proyek pengeboran sumur geothermal yang berlokasi di Ende, Nusa Tenggara Timur sejak September tahun lalu. Hingga akhir tahun unit usaha ini akan berkontribusi sebesar 40%-50% dari total pendapatan perusahaan sepanjang tahun ini.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini