Menko Darmin: Indonesia Bisa Jadi Impotir Kopi, asal...

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 08 Agustus 2018 11:47 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 08 320 1933426 menko-darmin-indonesia-bisa-jadi-impotir-kopi-asal-4qOnfzOE9t.jpeg Menko bidang Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, dalam dua hingga tiga tahun ke depan Indonesia bisa menjadi importir kopi. Hal ini mengingat produksi kopi dalam negeri stagnan. Dia menjelaskan, tingkat konsumsi kopi dalam negeri tumbuh pesat. Dalam lima tahun terakhir rata-rata per tahun konsumsi kopi nasional meningkat 8,8%.

"Itu berarti dua kali lipat dari peningkatan pendapatan per kapita. Jadi kalau pendapatan per kapita naik 1%, konsumsi kopi naik 2%," jelasnya dalam acara diskusi mengenai agro-industri kopi di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Darmin Nasution dan Yasonna Bicara Perbaikan Iklim Usaha dan Revitalisasi Hukum 

Namun, peningkatan konsumsi yang tinggi ini tak diimbangi dengan jumlah produksi kopi. Kata Darmin, rata-rata pertumbuhan kopi hanya 0,3% tiap tahunnya.

"Itu pertumbuhan kopi justru stagnan bahkan sedikit negatif. Apabila kita tidak antisipasi ini tidak tertutup kemungkina 2-3 tahun mendatang kita jadi importir kopi," jelasnya.

Darmin menyebutkan, di tahun 2017 areal kebun kopi Indonesia hanya 1,25 juta hektare (ha). Luasnya kalah dengan kebun kelapa sawit dan karet yang bahkan mencapai 2 juta ha. Dengan luasan tersebut, produktifitas petani kopi robusta hanya 0,53 ton per hektare, padahal berpotensi hingga 2 juta ron per hektare. Begitupula dengan kopi arabika yang sebanyak 0,55 ton per hektare dari potensi sebesar 1,5 ton per hektare.

kopi

"Kopi robusta kira-kira hanya memenuhi seperempat dari potensi, untuk arabica sepertiganya (dari potensi). Itu bukan suatu yang luar biasa," katanya.

Padahal, lanjutnya, komoditas ini berpotensi mensejahterahkan petani kopi, sebab ekostisme kopi membuat laju konsumsi komoditas ini semakin pesat di dunia. Saat ini saja, jumlah kebun kopi yag dilekola keluarga petani terbilang kecil hanya 0,7 ha untuk robusta dan 0,6 untuk arabika.

"Padahal idealnya perlu kira-kira idealnya 2,7 hektar per keluarga. Maka dengan luas ideal dan produktivias yang sesuai potensi, petani punya kemampuan cukup untuk mengurus kebunnya, kemampuan meremajakan kopi dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya," katanya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini