nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tingginya Bunga KPR Picu Harga Properti Tumbuh Melambat

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 09 Agustus 2018 17:58 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 09 470 1934246 tingginya-bunga-kpr-picu-harga-properti-tumbuh-melambat-bkJvzXe4El.jpeg Bank Indonesia paparkan Indeks Harga Rumah (Foto: Yohana)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat harga properti rumah tapak atau residensial di pasar primer pada kuartal II-2018 mengalami kenaikan. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal II-2018 yang tumbuh 0,76%.

Kendati demikian, Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI pada kuartal II-2018 mengindikasikan perlambatan kenaikan harga properti residensial. Ini terlihat pertumbuhannya jauh lebih rendah dari kuartal I-2018 yang sebelumnya sebesar 1,42%.

"Kenaikan harga properti residensial pada kuartal II-2018 terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan kenaikan upah pekerja bangunan," ujar Direktur Departemen Statistik BI Gantiah Wuryandani di Gedung BI, Jakarta, Kamis (9/8/2018).

Pada kuartal II-2018, kenaikan harga rumah tipe kecil sebesar 1,35%, melambat dari kuartal sebelumnya yang tumbug 2,30%. Tipe menengah tumbuh 0,68%, lebih rendah dari pertumbuhan sebelumnya yang 1,31%.

Kemudian untuk tipe besar menjadi 0,27% dari sebelumnya di kuartal I sebesar 0,64%. Berdasarkan wilayah, kenaikan harga properti residensial terjadi pada hampir semua kota, di mana tertinggi di Kota Medan sebesar 2,94%.

Di sisi lain, dari sisi volume penjualan properti residensial di kuartal II 2018 tercatat terkontraksi -0,08%. Lebih rendah dibandingkan dengan kuartal I-2018 sebesar 10,55%.

"Berdasarkan kuartal per kuartal menunjukan khususnya penurunan pada rumah menengah. Sehingga secara total terlihat masih menurun. Sedangkan untuk rumah tipe kecil ada peningkatan yang cukup signifikan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, beberapa faktor yang menyebabkan penurunan penjualan properti residensial pada kuartal II-2018 adalah tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan batasan minimum Down Payment (DP) kredit rumah.

Sementara itu, penjualan rumah tipe kecil meningkat karena adanya Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

“Jadi mungkin karena PUPR melalui FLPP mereka meningkatkan alokasi sehingga daya beli masyarakat kecil atau MBR itu cukup meningkat. Ini mendorong permintaan meningkat,” jelasnya.

Dalam survei ini, juga tercatat pembiayaan pembangunan properti residensial oleh pengembang terutama bersumber dari nonperbankan. Pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dana internal pengembang mencapai 58,11%, sementara sebanyak 75,21% konsumen menggunakan fasilitas KPR sebagai fasilitas utama untuk pembelian properti residensial.

(feb)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini