Ketakutan Tom Lembong pada Krisis Ekonomi Turki

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 14 Agustus 2018 16:59 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 14 20 1936424 ketakutan-tom-lembong-pada-krisis-ekonomi-turki-ETgMKmjf6K.jpg Kepala BKPM Thomas Lembong (Foto:Okezone)

JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mewaspadai krisis ekonomi yang terjadi di Turki belakangan ini. Sebab krisis ekonomi Turki ini bisa mempengaruhi investasi asing yang masuk ke Indonesia.

Menurut Kepala BKPM Thomas Lembong, krisis ekonomi yang terjadi pada Turki akan menjadi salah satu faktor penghambat bagi Indonesia dalam mengejar target realisasi investasi pada tahun ini. Sebab realisasi, khususnya pada kuartal III dan IV atau semester II akan mengalami perlambatan.

"Krisis moneter di Turki kami prihatin. Karena ini bisa membawa dampak untuk prospek bagi investasi di triwulan III dan IV tahun ini," ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat BKPM, Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Rakornas BKPM Sinergikan Pemerintah Pusat dan Daerah untuk Capai Target Investasi

Menurut Lembong, ancaman pada investasi asing yang masuk ke dalam negeri juga sempat terjadi saat krisis ekonomi yang terjadi di Argentina. Ketika itu, para investor asing serentak menarik modalnya dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

"Ini transmisinya melalui pasar uang dan pasar modal, di mana terjadi penurunan likuiditas terutama dolar di seluruh dunia akibat penarikan kembali modal investor yang di investasikan di negara berkembang dengan Capital outflow," jelasnya.

Lembong juga mengakui, jika selain krisis ekonomi Turki, hal yang menjadi tantangan dalam investasi pada tahun ini adalah melambatnya pertumbuhan investasi pada kuartal II-2018 ini.

Polri dam BKPM Teken Kerjasama Jaminan Keamanan untuk Berinvestasi

Berdasarkan data yang dirilis BKPM, pada triwulan kedua realisasi investasi hanya mencapai Rp176,3 triliun, angka ini hanya tumbuh 3,1% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang mencatatkan realisasi investasi Rp170,9 trilun.

Selama triwulan kedua 2018, realisasi PMDN mencapai Rp80,6 triliun atau naik 32,1% dari tahun sebelumnya (year on year/yoy) dari sebelumnya Rp61,0triliun. Sedangkan PMA mencapai Rp95,7 triliun , turun 12,9% dari tahun sebelumnya yang hanya Rp109,9 triliun

"Kami akui dengan perlambatan yang terjadi pencapaian target 2018 menjadi lebih sulit," ucapnya.

(feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini