nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rupiah Anjlok Rp14.900/USD, Pengembang Ketar-ketir Takut Rumah Tak Laku

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 04 September 2018 19:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 04 470 1945998 rupiah-anjlok-rp14-900-usd-pengembang-ketar-ketir-takut-rumah-tak-laku-T15wgfIMqA.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) semakin tertekan dan kini sudah menembus level Rp14.900 per USD. Angka ini menjadi level pelemahan terbaru setelah sebelumnya di Rp14.800 per USD.

Melansir Melansir Bloomberg Dollar Index, Selasa (4/9/2018) pukul 16.19 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 120 poin atau 0,81% ke level Rp14.935 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.780 per USD-Rp14.938 per USD.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Bidang Riset dan Luar Negeri DPD REI DKI Jakarta Chandra Rambey mengatakan, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS bisa berdampak buruk bagi bisnis properti. Sebab pembelian rumah baik itu rumah subsidi maupun komersil akan menurun.

"Semua, minat beli rumah subsidi dan komersil akan menurun," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (4/9/2018).

 

Menurut Chandra, penurunan minat beli masyarakat terhadap perumahan tidak terlepas dari rencana Bank Indonesia (BI) yang diprediksi akan menaikan kembali suku bunga acuannya. Sebab lewat kenaikan suku bunga ini diharapkan bisa kembali menstabilkan nilai tukar Rupiah ke level yang aman.

Sebab dengan kenaikan suku bunga acuan BI (BI Rate) maka perbankan pun akan ikut menaikan suku bunga kreditnya. Dan tentunya akan menjadi beban masyarakat yang mencicil rumah.

"Pasti turun, tapi tergantung BI. Sekarang kan dia baru naikin kalau enggak salah 0,25% kan naik lagi supaya duit kita enggak keluar semau kan gitu," jelasnya.

 Nilai Tukar Rupiah atas Dolar Amerika Serikat Sempat Tembus Rp14.545

Meskipun begitu Chandra mendukung upaya BI untuk menaikan suku bunga acuannya. Sebab relaksasi yang ada saat ini seperti kebijakan Loan to Value dengan Down Payment (DP alias uang muka Rp0 belum cukup membantu untuk mendongkrak sektor properti juika nilai tukar Rupiah kembali melemah.

Sebab jika Rupiah terus melemah, maka Bank Indonesia akan terus menerus menaikan suku bunganya. Jika hal tersebut terjadi, maka pasar properti akan semakin lesu.

"Relaksasi kan ada dua, satu di demand side dan satu lagi di suplai side. Kalau demand side ini memang bisa saja meningkatkan motif orang untuk membeli kan, itu harapan kita tapi kalau terjadi seperti ini kalau bunga KPR naik gara-gara suku bunga BI naik pasti akan turun," jelasnya

 

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini