nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sektor Tambang Pulih, PTBA Berharap Masuk Daftar Indeks MSCI

Jum'at 21 September 2018 13:48 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 09 21 278 1953634 sektor-tambang-pulih-ptba-berharap-masuk-daftar-indeks-msci-nKQRQhjwiN.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Kembali boomingnya bisnis pertambangan batu bara, diharapkan membawa dampak pada pertumbuhan bisnis dan kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Perseroan berharap, dengan sentimen tersebut mampu mengerek pertumbuhan harga saham dan bisa kembali masuk dalam daftar MSCI Global Small Cap Indexs setelah sebelumnya atau Agustus 2018 keluar dari daftar MSCI.

Manajemen PTBA menyebut, dikeluarkannya saham PTBA dari MSCI Global Small Cap Index tersebut bukan karena karena fundamental dari PTBA. Hendry Y Sulistyo, Pgs Sekretaris Perusahaan PTBA mengatakan, keluarnya PTBA dari small cap index karena dari sisi kapitalisasi pasar sudah terlalu besar untuk tetap berada di small cap. "Namun, pada saat yang sama juga tidak bisa untuk masuk ke size mid cap," kata Hendry seperti dikuti Harian Neraca, Jumat (21/9/2018).

IHSG Ditutup Naik Tipis pada Penutupan Perdagangan Akhir Pekan 

Saat rebelancing bulan Agustus 2018 lalu, acuan harga yang dipakai adalah harga saham PTBA pada 24 Juli dengan closing price Rp 4.240 per saham. Untuk bisa masuk ke mid cap, terdapat persyaratan yakni 50% harus memenuhi equity universe minimum float-adjusted market senilai USD900 juta. Sedangkan nilai yang dimiliki PTBA hanya USD889 juta."Sehingga keluar dari MSCI lebih dikarenakan sistem dan persyaratan yang ditetapkan MSCI. Bukan dari sisi fundamental PTBA , dan diharapkan saat rebelancing di November PTBA bisa masuk kembali ke MSCI," ujarnya.

Sebagai informasi, PTBA berencana melakukan ground breaking proyek coal to chemical plant pada Desember 2018. Terlebih, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta agar proyek hilirisasi batubara tersebut dipercepat. Proyek pengembangan antara PTBA dengan PT Pertamina dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) merupakan proyek feasible, mengingat harga batubara yang digunakan memakai skema harga batubara cost plus margin, bukan market price.

Alhamdulillah, Perdagangan IHSG Awal Pekan Dibuka Menguat 6,30 Poin 

Adapun kebutuhan batubara untuk proyek ini sebesar 9 juta ton per tahun, dengan produk utama hilirisasi adalah pupuk urea, DME dan polipropilen. Sementara itu, untuk menghadapi isu perubahan iklim beberapa tahun ke depan, PTBA akan terus menjaga market share dengan fokus pada energi terbarukan. Perusahaan pelat merah ini masih bertumpu pada proyek PLTS, dan ke depannya akan dikembangkan proyek energi terbarukan lainnya.

PTBA mengikuti tender Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 megawatt (MW). Perusahaan ini juga sudah menandatangani MoU dengan PT Angkasa Pura II untuk membangun PLTS di wilayah operasi Angkasa Pura II dan akan berlanjut ke tahap feasibility study. Proyeks PLTS ini tentunya memanfaatkan lahan open space Angkasa Pura II yang luas, sehingga sangat potensi untuk menghasilkan tenaga listrik yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik bandara.

Di paruh pertama 2018, perseroan mencatatkan lababersih sebesar Rp2,576 triliun atau tumbuh 49.5% dibanding periode yang sama tahun 2017yang tercatat sebesar Rp1,723 triliun. Pertumbuhan positif juga terjadi pada pendapatan perseroan di semester I 2018 sebesar Rp10,52 atau mengalami naik 17,54% dibanding periode yang sama tahun 2017 yang sebesar Rp8,95 triliun.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini