nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pakai Gas Elpiji 3 Kg, Nelayan Bisa Melaut hingga 10 Jam

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Jum'at 21 September 2018 16:54 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 21 320 1953759 pakai-gas-elpiji-3-kg-nelayan-bisa-melaut-hingga-10-jam-SeSQ8TtKpb.jpg Foto: Wahyudi Aulia Siregar/Okezone

LABUHANBATU - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, membagikan paket mesin dan alat pengubah energi (konverter kit) kepada 310 nelayan tradisional di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Pembagian ini merupakan bagian dari program konversi bahan bakar nelayan (marine) dari bahan bakar minyak ke bahan bakar gas yang sudah dimulai sejak 2016 lalu.

Pembagian konverter kit yang setiap unitnya disertai dengan 2 tabung gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram itu, dilakukan oleh Menteri ESDM, Ignatius Jonan melalui Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ego Syahrial di Kantor Desa Tanjung Haloban, Jalan Provinsi KM 18, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Jumat (21/9/2018).

 gas

Hadir dalam penyerahan itu, Plt Bupati Labuhanbatu, Andi Suhaimi Dalimunthe; Ketua Komisi VII DPR-RI, Gus Irawan Pasaribu; dan General Manager PT Pertamina Marketing Operation Regional I-Sunbagut, Joko Pitoyo yang diwakili oleh Pjs Manager Projects Konversi LPG, Herdi S Indrawan; serta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Labuhanbatu, Jumingan.

Sekjen Kementerian ESDM Ego Syahrial mengatakan, lewat program konversi ini diharapkan para nelayan kecil yang selama ini melaut dengan menggunakan kapal berkapasitas di bawah 5 grosston (GT) dapat menaikkan taraf hidupnya. Karena selain ramah lingkungan, mesin berbahan bakar gas yang kini digunakan para nelayan penerima manfaat program konversi itu, akan lebih efisien dan menekan biaya produksi para nelayan.

gas

"Untuk kegiatan para nelayan 7-10 jam, rata-rata dibutuhkan sekitar 7 liter bensin. Dengan konversi ke gas saat ini. Mereka hanya akan membutuhkan 1 tabung gas ukuran 3 kilogram seharga Rp18.000. Jadi mereka bisa menghemat Rp25.000-Rp30.000 per harinya untuk bahan bakar. Jadi lebih banyak uang yang bisa dibawa untuk keluarga,"sebut Ego.

"Ini program pemerintah dalam rangka memperbaiki kondisi penggunaan bahan bakar dari minyak yang cukup polutan menjadi gas yang lebih ramah. Karena gas selain lebih baik untuk udara, bahan bakar gas tidak mencemari jika ke terjatuh ke air,"tambahnya.

Ego lebih lanjut memaparkan, sejak diluncurkan pada tahun 2016 lalu, pemerintah terus menambah jumlah nelayan penerima manfaat program konversi tersebut. Bahkan tahun depan, sudah disiapkan anggaran pengadaan 25.000 paket konverter untuk seluruh Indonesia.

"Ini tahun ketiga program ini kita laksanakan di seluruh Indonesia. Tahun pertama kita salurkan 5.400 paket. Lalu tahun 2017 ada 17.000 paket. Tahun ini ada sekitar 20.000 paket. Tentunya belum semua bisa kita layani, karena anggaran kita yang terbatas. Sementara jumlah nelayan kecil kita mencapai 1-2 juta orang. Tentunya ada prioritas, makanya kita berharap agar alat ini dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,"jelasnya.

Bupati Andi Suhaimi mengaku sangat berterima kasih atas kembali terpilihnya Kabupaten Labuhanbatu sebagai penerima manfaat program konversi BBM nelayan ke bahan bakar gas. Ia juga berharap agar program ini terus berlanjut, karena masih sangat banyak nelayan kecil di Labuhanbatu yang membutuhkan program tersebut.

Polair Tangkap 8 Kapal Nelayan Asing Ilegal Asal Vietnam dan Malaysia

Menurut Suhaimi ini tahun kedua mereka mendapatkan program tersebut. Tahun lalu ada sebanyak 169 nelayan yang menerima program konversi. Dengan penambahan sebanyak 310 pada tahun ini, maka total ada 479 nelayan yang sudah menerima manfaat program tersebut.

"Kita di Labuhanbatu ada sekitar 6.000 nelayan. Kami berharap tahun depan bisa dapat lagi dan seluruh nelayan kecil kami bisa memperoleh manfaat program tersebut. Belum lagi, ada ribuan nelayan kita yang sampai hari ini mengandalkan tenaga mereka dengan dayung seadanya untuk mencari ikan. Kita harap ini bisa jadi perhatian pemerintah pusat juga,"sebutnya.

Suhaimi juga berharap, dengan adanya konversi bahan bakar nelayan ini, pemerintah melalui PT Pertamina dapat menambah pasokan elpiji bersubsidi di Labuhanbatu. Karena selama ini di daerah itu sering mengalami kelangkaan. Begitu juga dengan penyediaan SPBU khusus nelayan. Saat ini hanya ada satu SPBU khusus nelayan di Labuhanbatu. Kondisi itu membuat banyak nelayan harus menembus BBM dengan harga yang tinggi.

Polair Tangkap 8 Kapal Nelayan Asing Ilegal Asal Vietnam dan Malaysia

"Jangan nanti setelah dikonversi, nelayan kita justru tak bisa melaut karena tak ada elpiji,"tegasnya.

Ketua Komisi VII DPR-RI, Gus Irawan Pasaribu mengatakan, Pemerintah dan DPR sudah sepakat untuk menambah subsidi elpiji tiga kilogram di tahun 2019. Selain karena adanya konversi, penambahan itu ditujukan untuk mengantisipasi kembali terjadinya kendala pasokan seperti yang terjadi pada dua tahun terakhir.

"Untuk tahun depan, penambahan pasokan elpiji sudah kita setujui. Tinggal bagaimana nanti distribusinya diawasi. Untuk nelayan yang masih pakai tenaga manusia, kita akan segera bahas agar ada solusinya. Yang penting bagi kita, bagaimana nelayan kita bisa sejahtera," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini