nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

IMF: Perang Dagang Bikin Kacau Stabilitas Keuangan Global

Rafida Ulfa, Jurnalis · Rabu 10 Oktober 2018 16:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 10 20 1962170 imf-perang-dagang-bikin-kacau-stabilitas-keuangan-global-1WBx2tUJGb.jpg Foto: Pertemuan IMF-World Bank (Heru/Okezone)

JAKARTA - International Monetary Fund (IMF) menyatakan, risiko terhadap sistem keuangan global telah meningkat selama enam bulan terakhir.

Hal ini juga dapat meningkat tajam jika tekanan di pasar negara berkembang meningkat atau hubungan perdagangan global yang memburuk terus berlanjut.

Dilansir dari Business Insider, Rabu (10/10/2018), IMF juga mencatat bahwa sementara sistem perbankan telah ditopang oleh regulator dalam beberapa dekade sejak krisis keuangan global 2008, kondisi keuangan terus berkontribusi untuk meningkatkan kerentanan, seperti tingkat utang yang tinggi dan valuasi aset yang membentang.

Baca Juga: Pertemuan IMF-World Bank, Sri Mulyani Soroti Isu Kesetaraan Gender di Tempat Kerja

Menurut IMF, rezim resolusi bank baru yang dimaksudkan untuk menghindari dana talangan di masa depan sebagian besar belum diuji.

"Risiko jangka pendek terhadap stabilitas keuangan global telah meningkat, secara keseluruhan, pelaku pasar tampak puas tentang risiko pengetatan tajam dalam kondisi keuangan," kata IMF.

Direktur Departemen Moneter dan Pasar Modal IMF Tobias Adrian mengatakan, potensi guncangan terhadap sistem itu bisa datang dalam berbagai bentuk, di antaranya seperti inflasi yang lebih tinggi dari yang diperkirakan memicu lonjakan tajam suku bunga atau keluarnya secara tidak teratur oleh Inggris dari Uni Eropa.

 Baca Juga: IMF: Perang Dagang AS-China Rugikan Pertumbuhan Ekonomi Global

Namun, tingkat terparah dari dampak guncangan tersebut akan ditentukan oleh kerentanan yang di dalamnya termasuk meningkatnya tingkat utang non-financial sekarang melebihi 250% dari PDB, penurunan dalam standar underwriting di luar sektor perbankan tradisional dan harga aset yang tinggi yang dapat turun dengan tajam.

"Interaksi antara penumpukan kerentanan dan penurunan harga aset yang dapat menghasilkan implikasi buruk untuk kegiatan ekonomi makro," kata Tobias.

Penumpukan utang yang cepat di China dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi perhatian, meskipun pemerintah China telah mengambil langkah untuk mengendalikan pertumbuhan utang.

Baca Juga: Masuki Hari Ketiga, Ini Rangkaian Pertemuan IMF-World Bank

Dalam laporannya, IMF mengatakan pertumbuhan ekonomi tampaknya telah mencapai puncaknya di beberapa negara besar sementara kesenjangan antara negara maju dan pasar negara berkembang semakin melebar. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan global akibat perang perdagangan AS-China yang meningkat dan meningkatnya ketegangan keuangan di pasar negara berkembang.

Amerika Serikat terus tumbuh kuat dan Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk ketujuh kalinya dalam delapan kuartal terakhir pada pertemuan kebijakan terbaru pada bulan September. Pasar saham AS juga berada pada rekor tertinggi.

Hal tersebut kontras dengan pelambatan di kawasan euro dan Jepang. Perekonomian China juga menunjukkan tanda-tanda moderat dan itu dapat diperburuk oleh perselisihan dagangnya dengan Amerika Serikat, yang telah memberlakukan tarif senilai USD250 miliar impor dari Beijing dan mengancam bea masuk sebesar USD267 miliar lebih.

IMF selanjutnya mengatakan bahwa normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat serta dolar yang lebih kuat dan eskalasi ketegangan perdagangan telah mulai mempengaruhi ekonomi pasar di negara berkembang.

Penelitian IMF baru menunjukkan negara-negara pasar berkembang tidak termasuk China bisa menghadapi capital outflow hingga USD100 miliar, tingkat yang terakhir terlihat selama krisis keuangan global.

IMF menyoroti sejumlah risiko jangka pendek lain terhadap stabilitas keuangan termasuk kemungkinan Brexit "no-deal" atau kekhawatiran kebijakan fiskal baru di beberapa Negara Zona Euro yang terlilit utang tinggi.

Ini juga mendesak regulator global untuk tetap mengambil tindakan yang diambil sejak krisis keuangan dan keduanya meningkatkan pengawasan likuiditas pasar dan meningkatkan jumlah bank-bank modal harus menyisihkan untuk menahan penurunan.

"Agenda reformasi regulasi keuangan harus diselesaikan, dan kemunduran reformasi harus dihindari, untuk mengatasi potensi risiko sistemik secara memadai, pengaturan dan pengawasan keuangan harus digunakan secara lebih proaktif,” jelas pernyataan IMF.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini