nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pembicaraan Sri Mulyani-Bos Bank Dunia soal Human Capital Index

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 11 Oktober 2018 19:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 10 11 20 1962808 pembicaraan-sri-mulyani-bos-bank-dunia-soal-indeks-modal-manusia-NQ4D8VXVoJ.jpg Foto: Pertemuan IMF-World Bank (Heru/Okezone)

NUSA DUA - Pemerintah Indonesia menyambut baik upaya Bank Dunia yang semakin fokus pada persoalan human capital, termasuk upaya lembaga ini yang telah mengeluarkan Human Capital Index (HCI) terbaru.

Pemerintah juga mengapresiasi Bank Dunia karena telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi perhatian penting, termasuk sebagai negara early adaptor dari HCI yang baru.

“Human capital index yang diluncurkan Bank Dunia menjadi sangat penting, dan kami menyatakan siap bekerjasama karena Indonesia memiliki pengalaman berharga dalam investasi human capital. Saya sendiri secara pribadi terpengaruh dengan Presiden Kim” ujar Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati (Menkeu) saat berbicara dalam forum Human Capital Summit, A Global Call to Action di Mangapura Room, BICC pada Kamis (11/10/2018).

 Baca Juga: Sri Mulyani dan Melinda Gates Sepakat Teknologi Adalah Peluang, Bukan Ancaman

Bank Dunia sendiri menyambut baik berbagai hal yang menjadi perhatian dan langkah-langkah pemerintah Indonesia dalam hal pengembangan human capital. Diakui oleh Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim, dalam masalah sumber daya manusia, para pemimpin negara memang harus berusaha lebih detail dalam melihat perkembangan pendidikan dan kesehatan di wilayah masing-masing, termasuk dalam hal penanganan stunting.

“Inilah level diskusi yang harus kita wujudkan. Stunting, kekurangan kualitas dalam bidang pendidikan, adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai ada yang mengatakan tidak tahu perkembangan masalah ini. Bila itu yang terjadi, anda sedang menyiapkan generasi yang tidak berkualitas untuk masa depan negara Anda” tegas Presiden Kim.

 ASEAN Leaders Gathering Digelar di Sela-Sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group

HCI merupakan salah satu program Bank Dunia untuk menghitung komponen utama modal sumber daya manusia terhadap benchmark untuk seluruh negara di dunia. HCI didesain untuk menjelaskan bagaimana perkembangan kondisi kesehatan dan pendidikan untuk dapat mendukung produktivitas generasi yang akan datang.

HCI mengkombinasikan komponen-komponen probabilitas hidup hingga usia 5 tahun (survival), kualitas dan kuantitas pendidikan, dan kesehatan termasuk isu Stunting. Komponen tersebut merupakan bagian utama dari pengukuran produktivitas tenaga kerja di masa depan dari anak yang dilahirkan saat ini.

 Baca Juga: Giliran Lagarede Puji Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global

Untuk komponen 1 yaitu survival, Indonesia unggul dari negara-negara Asia Selatan dan Afrika. Untuk komponen 2 yaitu kualitas dan kuantitas pendidikan, Indonesia unggul dari negara negara Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika.

 Melihat Persiapan Jelang Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua Bali

Hampir di semua komponen perhitungan HCI, kondisi Indonesia lebih baik dari kelompok pendapatan rendah-menengah (lower-middle income countries). Namun, untuk stunting, posisi Indonesia masih dianggap memilki tantangan tersendiri apabila dibandingkan dengan lower-middle income.

Pada forum diskusi hari ini, sejumlah negara tampil untuk menyampaikan strategi sekaligus berbagai langkah yang telah dilakukan dalam mengelola human capital di negara masing-masing. Selain Indonesia, tampil pula Perdana Menteri Singapura, Menteri Keuangan dari Polandia, Etiopia, Peru, Pakistan dan Irak. Sebelumnya, acara ini dibuka oleh Presiden Kim.

Menkeu Sri Mulyani memaparkan berbagai hal yang menjadi perhatian khusus pemerintah untuk meningkatkan kualitas human capital khususnya terkait pendidikan, kesehatan, dan generasi milenial.

Sebagai bagian dari strategi penanganan human capital, Indonesia telah mengalokasikan 20% anggaran untuk pendidikan, meningkatkan kualitas guru, manajemen sekolah dan proses belajar mengajar peserta didik.

Pemerintah Indonesia juga memberikan perhatian besar pada pendidikan vokasi untuk menghadapi revolusi industri 4.0, teknologi informasi, dan partisipasi sektor swasta dalam pendidikan.

Dalam menghadapi isu pembangunan digital, pemerintah Indonesia memperkenalkan beberapa kebijakan strategis. Di antaranya adalah meningkatkan kurikulum pendidikan dan meningkatkan kompetensi pekerja, meningkatkan kompetensi melalui pelatihan vokasi dan program magang, meningkatkan kualifikasi, kebutuhan dan pelaksanaan sertifikasi profesi di seluruh institusi di seluruh wilayah Indonesia.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini