nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fitch Ratings: Penundaan Kenaikan Harga Premium Tekan Kinerja Pertamina

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 16 Oktober 2018 18:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 16 320 1964873 fitch-ratings-penundaan-kenaikan-harga-premium-tekan-kinerja-pertamina-qO0K4U39i7.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menilai penundaan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium oleh pemerintah akan menambah tekanan Pertamina dalam 12 bulan ke depan. Penundaan kenaikan harga Premium mengakibatkan kerugian besar atas penjualan bahan bakar tersebut.

Melansir Fitch Ratings, Selasa (16/10/2018), penundaan kenaikan yang terjadi beberapa waktu lalu kurang baik pada kegiatan hulu Pertamina. Pasalnya, harga minyak yang lebih tinggi tidak akan cukup untuk mengimbangi pada bisnis hilirnya.

Baca Juga: Polemik Kenaikan Harga BBM, Menko Luhut: Masalah Komunikasi Saja

Fitch Ratings menilai, apa yang terjadi terhadap penundaan kenaikan harga Premium menggambarkan bahwa sifat harga BBM sensitif secara politik di Indonesia. Di mana jika terjadi kenaikan harga maka akan memicu konflik seperti di masa lalu.

Dengan kata lain, kenaikan harga BBM yang diatur sekarang akan sangat sulit dilakukan sampai pemilihan umum Presiden selesai pada April 2019.

Peraturan harga bahan bakar yang berlaku pada tahun 2015 dengan menghapus subsidi untuk bensin dan menetapkan subsidi untuk solar. Pemerintah terus menetapkan harga untuk bahan bakar yang diatur, tetapi mengindikasikan bahwa harga akan melacak pergerakan harga minyak internasional dan nilai tukar.

Baca Juga: Aneka Komentar Masyarakat Usai Harga Premium Batal Naik

Pemerintah memang meningkatkan subsidi yang dibayarkan kepada Pertamina menjadi Rp2.000 per liter pada Agustus 2018. Namun demikian, diperkirakan bahwa kompensasi yang diterima Pertamina untuk penjualan produk yang diatur, termasuk subsidi, masih hanya sekitar 60% -75% dari harga pasar.

Pada bensin dan diesel yang diatur kemungkinan akan lebih tinggi secara signifikan tahun ini dari USD2 miliar yang tercatat pada tahun 2017. Perusahaan memperkirakan kurang sekitar USD1,2 miliar.

Harga bahan bakar premium tidak tetap dan Pertamina telah menaikkan harga ini secara berkala, meskipun perusahaan membutuhkan persetujuan pemerintah untuk peningkatan sejak April 2018.

Namun, perbedaan substansial antara harga bahan bakar yang diatur dan premium dapat mengakibatkan permintaan untuk bahan bakar premium jatuh jauh, yang mungkin menambah kerugian downstream.

 (Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini