nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Empat Tahun Jokowi-JK Targetkan Inflasi Hanya 3%

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Sabtu 20 Oktober 2018 17:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 20 320 1966669 empat-tahun-jokowi-jk-targetkan-inflasi-hanya-3-s1RQXlYWp8.jpg

JAKARTA - Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) telah berlangsung empat tahun tepat pada hari ini, Sabtu (20/10/2018).

Staf khusus (Stafsus) Presiden Jokowi, Ahmad Erani Yustika mengatakan, terdapat lima besar indikator ekonomi yang disasar oleh pemerintah selama 4 tahun ini. Pertama, menjaga stabilitas makroekonomi untuk memerbaiki kualitas pembangunan seperti kemiskinan, pengangguran, inflasi, investasi, dan lain-lain.

"Kedua, mengarusutamakan agenda keadilan ekonomi yang sebelum ini rumit untuk dieksekusi (mengurangi ketimpangan)," kata Erani dalam pesan singkatnya, Sabtu (20/10/2018).

Sementara, agenda besar ketiga di bidang ekonomi lainnya adalah mempersiapkan dasar-dasar pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu, keempat adalah membangun kemandirian ekonomi yang tertunda begitu lama.

"Kelima, memerkuat tata kelola pembangunan untuk memastikan efisiensi dan efektivitas dapat dipenuhi," imbuhnya.

Jokowi-JK Pimpin Sidang Kabinet Bahas Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal 2019

Erani membenarkan, terdapat turbulensi ekonomi dalam pemerintahan Jokowi-JK. Namun, dengan mitigasi kebijakan yang memadai, pada 2016 terjadi titik balik ketika pertumbuhan ekonomi naik menjadi 5,03%.

"Pada tahun itu 'kutukan pertumbuhan ekonomi yang makin menurun' bisa dihentikan (sejak 2011). Berikutnya, pada 2017 naik tipis menjadi 5,07% dan diproyeksikan pada 2018 ini pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2%," jelasnya.

Sementara itu, pada saat yang sama inflasi dapat ditekan ke level dibawah 4% selama 3 tahun berturut-turut. Pada 2015 inflasi 3,35%, 2016 inflasi 3,02%, dan 2017 inflasi 3,61%. Dia pun memperkirakan pada 2018 inflasi hanya sebesar 3%.

"Ini sejarah baru di mana pemerintah bisa mengelola stablitas harga yang selama ini sulit dilakukan," pungkasnya. (yau)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini