6 Anak Muda Indonesia Gebrak Dunia Bisnis di Kancah Internasional

Feby Novalius, Jurnalis · Minggu 28 Oktober 2018 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 25 320 1968739 6-anak-muda-indonesia-gebrak-dunia-bisnis-di-kancah-internasional-zjcljL54w1.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Anak-anak muda identik dengan impian dan semangat yang berkobar. Bahkan, Presiden Pertama Indonesia Soekarno memiliki pernyataan unik mengenai hal ini.

"Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia," begitu kutipan dari Sang Proklamator.

Baca Juga: Anak Muda RI Makin Bersinar, Diakui di Pentas Global

Dari sekian banyak anak muda sekarang ini, ada sejumlah anak muda Indonesia yang tidak hanya memiliki cita-cita. Tapi mulai mewujudkan cita-citanya tersebut dan diakui oleh dunia.

Dalam daftar 30 Under 30, terpampang 600 nama anak-anak muda dari seluruh dunia. Dari nama-nama itu, terdapat beberapa anak-anak muda yang mewakili Indonesia.

Rorian Pratyaksa, 26

Cofounder PayAcces

Rorian bertekad mengenalkan masyarakat Indonesia dengan mobile pay, sehingga tidak lagi ketergantungan kepada bank. Alasan itu yang membuat dia mendrikan PayAcces, startup yang bergerak di bidang licensed mobile payment. Platform ini memanfaatkan smartphone untuk transaksi pembayaran online to offline.

(Foto: Forbes)

Sebelumnya, dia merupakan analis di PwC dan kini dia menjabat sebagai chief business development officer PayAcces. Dirinya juga mendapat penghargaan Australian Award Scholarchip dari pemerintah Australia pada 2016.

Iwan Kurniawan, 28

Reynold Wijaya, 29

Cofounder Modalku

Modalku yang berbasis di Indonesia merupakan sister operations Funding Societies yang berada di Singapura dan Malaysia. Modalku merupakan platform pinjaman digital peer-to-peer yang menghubungkan usaha kecil dan menengah (UKM) yang membutuhkan modal dengan para pemberi pinjaman.

Diluncurkan pada 2015, diresmikan oleh tiga orang, termasuk CEO Reynold Wijaya dan COO Iwan Kurniawan. Didukung oleh Sequoia, Modalku telah mencatat total investasi USD75 juta di UKM.

Baca Juga: Tukang Roti Ini Didenda karena Jualan Setiap Hari, Kok Bisa?

Krishnan Menon, 28

Marshall Utoyo, 28

Cofounder Fabelio

Marshall Utoyo dan Krishnan Menon mengumpulkan pengetahuan mereka tentang e-commerce dan desain furnitur Indonesia untuk mendirikan Fabelio, toko furnitur online dan offline yang berbasis di Indonesia pada 2015.

Mereka telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 2.000 penajin lokal dan pabrik. Tujuannya adalah menciptakan desain dan produk berkualitas untuk harga yang wajar. Mereka juga memiliki layanan lain yang termasuk desain interior dan uji coba produk di rumah.

 (Feb)

Fransiska Hadiwidjana, 28

Founder & CEO Prelo

Engineer sekaligus entreprenuer Fransiska Hadiwidjana adalah founder dan CEO Prelo, e-commerce yang berfokus pada penggunaan teknologi ramah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Platform ini memungkinkan pengguna menjual barang bekas mereka atau menyewakannya.

Selain mengagas Prelo, Fransiska juga merupakan salah satu pendiri laboratorium AugMI, sebuah startup biomedis pemenang penghargaan di Silicon Valley dan telah dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh wirausaha teknologi wanita yang inspiratif di Asia Tenggara oleh Forbes.

Stanislaus Mahesworo Christandito Tandelilin, 27

Cofounder Sale Stock

Stanislaus Tandelilin adalah salah satu dari lima pendiri Salestock.com. Aplikasi dan platform yang ditujukan dengan tujuan membuat pakaian layak untuk kelas pekerja dan mereka yang hidup secara rurual. Bekerja untuk menjaga harga produk tetap rendah, Salestock.com menggunakan kecerdasan buatan untuk mengelola proses pengadaan dan rantai pasok dan menawarkan uang tunai pada pengiriman ke lebih dari 7.000 lokasi.

Perusahaan ini juga baru-baru ini menerima pendanaan sebesar USD27 juta. Mereka juga tengah mengkaji kemungkinan ekspansi ke luar negeri.

Muhamad Risyad Ganis, 25

Yohanes Sugihtononugroho, 25

Cofounders Crowde

Yohanes Sugihtononugroho dan Muhammad Risyad Ganis mendirikan Crowde pada 2016 dengan tujuan membantu petani kecil di Indonesia dalam mendapatkan akses permodalan. Platform ini memberi petani alternatif mendapatkan dana dari bank dan lintah darat.

Investor publik dapat berkontribusi minimal USD1 melalui pembayaran elektronik untuk mendukung berbagai proyek pertanian yang dapat dipantau secara online. Setelah panen dipanen, para investor menerima bagian dari keuntungan. Crowde diakui untuk layanan pertanian di kompetisi DBS-NUS Social Venture Challenge Asia 2017.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini