Harga Kemenyan Anjlok, Apa Penyebabnya?

Robert Fernando H Siregar, Jurnalis · Rabu 07 November 2018 19:14 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 07 320 1974714 harga-kemenyan-anjlok-apa-penyebabnya-m9S7MqljRY.jpg Produksi Kemenyan (Foto: Okezonee)

TAPANULI UTARA – Anjlok harga jual kemenyan dipengaruhi oleh margin tata niaga. Rantai tata niaga sangat panjang membuat animo masyarakat tidak ada untuk bertanam tumbuhan asli hutan itu. Dan diperparah lagi, tidak adanya pasar tunggal atau eksportir.

Haminjon dalam bahasa Batak (kemenyan), kalau dulu masih menjadi tumpuan sebagai mata pencaharian bagi masyarakat di pedesaan di daerah Tapanuli, khususnya Tapanuli Utara (Taput). Namun mungkin hal itu akan menjadi kenangan, seiring tidak adanya animo generasi muda dalam budidaya kemenyan.

Salah satu petani kemenyan Rano Sinambela ditemui di Dusun Lobu Pining, Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput, Provinsi Sumatera Utara menerangkan, harga kemenyan tahun ini, anjlok. Oktober lalu, harga kemenyan untuk kualitas terbaik dikisaran Rp230 ribu per kilogram (Kg).

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Aturan Pajak Impor 900 Komoditas Siap Diterbitkan

Namun November ini, terang Rano, harga turun dikisaran Rp210 ribu per Kg. Kondisi harga kemenyan tahun 2018 ini, sangat tidak menguntungkan petani. Dibanding tahun 2017 lalu, petani masih bisa tersenyum lebar, karena harga kemenyan stabil dikisaran Rp300 – Rp320 ribu per Kg.

“Standar harga yang memadai untuk kemenyan, minimum dikisaran Rp300 ribu per Kg. Harga dimaksud, agar dapat mengimbangi biaya produksi. Sebab kemenyan dideres, 4 bulan kedepan hasil atau getahnya baru bisa diambil,”ungkap Rano Sinambela kepada Okezone, Rabu (7/11/2018).

Produksi per batang, jelas Rano Sinambela, hanya sekitar 200 gram getah. Dan selama 4 bulan itu pula, tanaman harus dirawat dan selalu dijaga, guna mengantisipasi ganggu orang lain yang dapat mengganggu produksi.

Kepala Dinas Pertanian Taput Tony Simangunsong melalui Kepala Bidang Perkebunan, Ir Hotman Sianturi mengatakan, Pemerintah tidak dapat melakukan intervensi terhadap harga komoditas kemenyan. Harga komoditas itu tidak dapat di intervensi pemerintah, karena pasar global.

Hotman Sianturi mengatakan, harga jual kemenyan sangat fluktuatif dan bahkan sulit diprediksi atau tidak ada standar harga, karena belum ada eksportir yang langsung menampung kemenyan petani.

“Fluktuatif harga kemenyan, karena tidak ada eksportir. Sehingga rantai tata niaga sangat panjang. Pengumpul dan toke-toke yang menentukan/mengendalikan harga. Pengumpul dan toke, harus mengirim kemenyan ke pulau Jawa. Dari pulau Jawa, baru dikemas dan di ekspor ke negara konsumen, seperti Francis, China, India,”ujar Hotman Sianturi.

Baca Juga: Teh Indonesia Terima Penghargaan Teas of the World

Solusi pasar kemenyan, harap Hotman Sianturi, Pemerintah, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Stakeholder, agar mencari peluang-peluang pasar ke negara-negara konsumen, termasuk giat dalam melakukan promosi. Pemerintah Kabupaten Taput selama ini telah juga berupaya mencari pengusaha, investor untuk melakukan kemitraan antara petani kemenyan terhadap pengusaha.

Kemenyan, tutur Hotman Siantur, adalah tanaman asli hutan daerah Taput dan dapat bersaing hidup dengan tanaman lainnya. Tanaman kemenyan, produksi dari umur 7 hingga 50 tahun. Tanaman kemenyan di Taput tumbuh secara alami. Namun untuk budidaya tanaman ini, Pemerintah Daerah (Dinas Pertanian) mengalami kendala dalam usaha pengembangan bibit kemenyan ke masyarakat.

“Kendalanya, varietas kemenyan yang resmi dilepas oleh pemerintah/Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), belum ada yang bersertifikat. Sebab pengembangan bibit ke masyarakat, tidak dapat dilakukan, karena syarat pengembangan harus bersertifikat benih atau bibit,”ujar Hotman Sianturi.

 (Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini