nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Begini Caranya Kurangi Ketergantungan Impor Terigu

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 15 November 2018 17:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 15 320 1978283 begini-caranya-kurangi-ketergantungan-impor-terigu-zkStYIXwKt.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Indonesia pada bulan Oktober 2018 sebesar USD17,62 miliar. Melonjak 20,60% dari posisi September 2018 sebesar USD14,60 miliar.

Bila dibandingkan dengan realisasi impor Oktober 2017 bahkan naik 23,66% yang sebesar USD14,25 miliar. Impor nonmigas pada Oktober 2018 berasal dari 13 negara utama dengan total nilai USD11,63 miliar. Mengalami kenaikan USD1,6 miliar atau 16,46% dibandingkan periode September 2018.

Untuk mengurangi ketergantungan impor, Kementerian Pertanian memperkenalkan berbagai produk olahan pangan berbahan baku pangan lokal strategis hasil inovasi Badan Litbang Pertanian yang dapat menjadi alternatif pengganti terigu.

 Baca Juga: Impor Indonesia Bengkak 23% Jadi USD17,6 Miliar

Mi yang selama ini banyak dikonsumsi masyarakat umumnya terbuat dari bahan baku impor (terigu). Bahkan konsumsi terigu nasional meningkat 1 kg/kapita/ tahun.

Dari 15,5 kg/kapita/tahun pada tahun 2008, menjadi 25 kg/ kapita/tahun pada tahun 2018. Ini menunjukkan ketergantungan masyarakat terhadap terigu yang semakin tinggi, dan tentunya meningkatkan beban devisa negara.

Pemerintah berharap dengan peluncuran mi berbahan baku pangan lokal dapat mengurangi ketergantungan produk pangan berbahan baku impor.

Mi nusantara terbuat dari bahan baku pangan lokal yakni sagu, hanjeli, sorghum, jagung dan ubi kayu. Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia.

"Kita sudah lebih 20 tahun memakan tepung impor. Ini harus kita ubah pelan-pelan," ujar Kepala Badan Litbang Pertanian M Syakir seperti dikutip Okezone, Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Baca Juga: Impor Terbesar RI dari Jepang, Nilainya USD446 Juta

Dia mengingatkan Indonesia adalah negara terbesar kedua di dunia dalam keragaman hayati. Berbagai sumber daya lokal yang kita miliki bisa dikembangkan sebagai pangan pokok.

"Karena itu daerah yang selama ini pernah mengonsumsi pangan lokal akan kita bangkitkan kembali", katanya optimistis.

Penerapan inovasi menjadi salah satu upaya untuk menekan tingginya tingkat ketergantungan terhadap produk olahan terigu. Dengan inovasi bahan pangan lokal sangat berpotensi menjadi alternatif substitusi terigu.

 Baca Juga: Neraca Perdagangan Oktober 2018 Defisit USD1,82 Miliar

Berbagai teknologi pengolahan dengan memanfaatkan pangan lokal sebagai bahan baku pangan pokok ataupun kudapan sudah banyak dihasilkan.

Beberapa teknologi tersebut di antaranya modifikasi tepung atau pati baik secara fisik, kimia maupun biologis, penggunaan aditif, formulasi produk mampu menghasilkan tingkat substitusi terigu. Di antaranya roti 10-20%, mie 10-30%, cake 50-100% dan kue kering serta cookies 100%.

"Ini memperlihatkan bahwa kita siap dengan teknologi. Membuktikan juga Indonesia bisa membuat mie non terigu. Saat ini pemerintah memang bukan lagi sebatas promosi tapi harus langsung berbuat," kata Syakir.

Untuk mempercepat hilirisasi inovasi pengolahan pangan lokal tersebut, Balitbangtan menggandeng pemerintah daerah sentra produksi ataupun sentra konsumsi pangan lokal, membangun Model Agroindustri Pangan Lokal. Di antaranya, di Cimahi (berbasis ubi kayu), Sumedang (berbasis hanjeli), Demak (berbasis sorgum), Palopo, Maluku Tengah, Sorong dan Jayapura berbasis sagu.

Dalam pengembangan Model Agroindustri Pangan Lokal tersebut, Balitbangtan menyiapkan panduan proses pengolahan mulai dari bahan baku hingga menjadi tepung dan produk olahannya seperti berasan, mie dan produk turunan lainnya.

"Dengan adanya teknologi tersebut, kami mengundang kalangan industri untuk bekerjasama mengembangan industri produk pangan berbahan baku lokal," kata Syakir.

Peluang pengembangan produk pangan lokal memang terbuka lebar, termasuk mi dan berbagai jenis kue. Misalnya pangan sagu, Indonesia mempunyai hutan sagu terbesar di dunia mencapai 5,5 juta ha atau mendekati 85% populasi sagu dunia. Sayangnya potensi ini belum dikembangkan dengan baik.

Begitu juga dengan sorghum merupakan sumber pangan lokal potensial lainnya. Tanaman sorghum sangat hemat air dan bisa tumbuh dengan baik di daerah kering berbatu seperti di NTT.

Pun ubi kayu, jagung serta berbagai tanaman lain seperti hanjeli, garut, ganyong, talas dan sukun. Pangan lokal itu dulunya pernah menjadi sumber pangan di sebagian masyarakat Indonesia. Namun kini nasibnya miris karena terpinggirkan konsumsi beras dan terigu yang semakin meningkat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini