nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Butuh Investasi Besar, Pengembangan Energi Baru Terbarukan Sulit Tercapai

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 16 November 2018 14:59 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 16 320 1978746 butuh-investasi-besar-pengembangan-energi-baru-terbarukan-sulit-tercapai-t6HVdtsj0e.jpg Ilustrasi: Foto Reuters

JAKARTA – Pemerintah pesimistis pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dapat mencapai target 23% pada 2025. Hal itu lantaran pengembangan EBT membutuhkan investasi besar untuk menciptakan teknologi baru.

”Saya khawatir tidak bisa mencapai 23%. Mungkin kita coba kurang lebih 20%,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, di acara Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, solusi mempercepat pengembangan EBT yaitu memberikan insentif bagi pengembang. Namun demikian, pengembangan EBT masih dihadapkan pada prioritas subsidi pemerintah guna mewujudkan pemerataan akses listrik bagi masyarakat tidak mampu.

”Kalau belum ada listrik kemudian ada insentif, pasti akan jadi protes besar. Ini jadi tantangan besar bagi negara kita,” tandasnya.

Tak hanya itu, sektor transportasi secara keseluruhan juga masih belum siap menggunakan bahan bakar berbasis EBT seperti ethanol karena bahan bakunya masih rendah. Padahal, tingkat penyerapan bahan bakar di sektor transportasi cukup besar.

”Saya katakan mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar bensin itu campurannya pakai ethanol. Sementara bahan baku ethanol seperti tebu, ketela pohon konsumsinya bersaing dengan manusia. Kalau skala kecil, bisa. Tapi, untuk skala besar untuk sekarang belum bisa,” ujar dia.

Karena itu, pihaknya berharap sektor industri pertanian dan perkebunan dapat mengoptimalkan produksi bahan baku ethanol seperti tebu dan ke tela pohon. Industri pertanian dan perkebunan dapat menanam ketela pohon atau tebu dengan skala jutaan hektare untuk pembuatan ethanol.

”Saya berharap industri pertanian atau perkebunan besar itu misalnya menanam ketela pohon dalam skala jutaan hektare untuk dikonversi menjadi ethanol sehingga dapat menjadi campuran bensin. Kalau tidak, kita akan impor lagi,” kata dia.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai, EBT di Indonesia membutuhkan insentif dari pemerintah. Selain kemudahan perizinan, pengembang menginginkan harga jual-beli tenaga listrik yang menarik dan kemudahan mendapat pendanaan.

”Meskipun investasi asing dan domestik tertarik mengembangkan energi terbarukan di Indonesia, realisasi investasi belum optimal,” kata dia.

Sebab itu, pihaknya berharap pemerintah menyiapkan kebijakan yang dapat mendorong investasi energi terbarukan tumbuh lebih cepat. Untuk beberapa investor, insentif berupa pemotongan pajak atau pengurangan bea masuk barang impor dapat menaikkan keekonomian proyek.

Namun, untuk investor lokal, akses pendanaan selalu jadi kendala akibat tingginya suku bunga kredit yang kadang di atas 12%.”Mereka butuh suku bunga pinjaman yang rendah, sekitar 7-8% untuk men capai keekonomian proyek,” jelas Fabby.

Selain itu, imbuhnya, insentif untuk EBT tidak bisa dibuat seragam. Tetapi, perlu mempertimbangkan jenis teknologi yang dipakai pada pembangkit listrik.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM sampai kuartal III 2018, pencapaian investasi sektor EBTKE mencapai 40% dari target investasi yang ditetapkan tahun ini sebesar USD2 miliar. (Nanang Wijayanto)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini