nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pertumbuhan Kredit Ditaksir Tembus 11,5% hingga Akhir 2018

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 22 November 2018 12:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 22 320 1981116 pertumbuhan-kredit-ditaksir-tembus-11-5-hingga-akhir-2018-qVTSoJG1vx.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan, pertumbuhan kredit masih berpotensi naik, tapi kondisi ini diyakini tidak dapat berlangsung lama. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor risiko, seperti terbatasnya pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan potensi naiknya bunga kredit akibat kenaikan bunga acuan.

”Di sisi lain, pertumbuhan DPK diperkirakan akan tetap tumbuh lebih rendah di tengah proses penyesuaian bunga simpanan yang masih terjadi,” kata Kepala Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS Dody Arifianto di Jakarta kemarin.

Adapun pertumbuhan kredit dan DPK tahun ini diperkirakan mencapai 11,5% dan 7,2%. Dengan demikian, Loan to Deposito Ratio (LDR) Perbankan akan berada di sekitar 93,2%. Sementara itu, ruang kenaikan lanjutan bunga simpanan perbankan ke depan masih ada, tapi sudah mendekati optimal, khususnya untuk suku bunga maksimal.

Baca Juga: Butuh Pinjaman Usaha? Cek Kelayakan Kredit Anda

Akan tetapi, menurut dia, tren kenaikan ini dapat berlanjut jika peningkatan bunga acuan kembali dilakukan. Di sisi lain, bunga simpanan valas diperkirakan juga akan ikut naik di tengah masih adanya gap antara bunga simpanan onshore dan offshore serta potensi kenaikan lanjutan Fed Rate pada Desember.

Dody melanjutkan, ruang kenaikan lanjutan bunga acuan di sisa tahun ini diperkirakan masih akan tersisa sekali lagi dengan mempertimbangkan bahwa risiko volatilitas di pasar keuangan, khususnya nilai tukar masih terbuka.

Sementara rencana kenaikan lanjutan Fed rate pada Desember 2018 perlu diantisipasi dengan penyesuaian kebijakan bunga domestik.

”Faktor lain yang juga akan menjadi fokus BI dalam penetapan suku bunga ke depan adalah menjaga pencapaian target inflasi melalui level defisit neraca berjalan yang aman,” kata dia.

Baca Juga: 5 Manfaat Pinjaman Tanpa Agunan, Apalagi saat Keadaan Darurat

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan terjaga pada tingkat yang aman mencapai 22,9%. Rasio likuiditas (AL/DPK) juga terjaga sebesar 19,2% pada September 2018, meningkat dibandingkan posisi Agustus 2018 sebesar 18,3%.

”Selain itu, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) tetap rendah yaitu sebesar 2,7% (gross) atau 1,2% (net),” imbuhnya.

Hingga akhir tahun, BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2018 sekitar 12% (yoy), sedangkan pertumbuhan DPK diprakirakan sekitar 8% (yoy).

Ke depan, BI akan terus memantau kecukupan dan distribusi likuiditas di perbankan agar tetap konsisten dengan upaya turut menjaga stabilitas sistem keuangan.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini