nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Defisit Tahun Depan Diprediksi Lebih Rendah

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 29 November 2018 11:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 29 20 1984420 defisit-tahun-depan-diprediksi-lebih-rendah-EbqJt95nvu.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA Defisit transaksi berjalan (current account deficit /CAD) pada 2019 kemungkinan akan lebih rendah dibanding tahun 2018. CAD diperkirakan akan berada di kisaran 2,5% dari PDB.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) Adrian Panggabean mengatakan, ada dua penyebab defisit neraca berjalan Indonesia, pertama adalah impor migas dan kedua adalah infrastruktur. Untuk impor migas sebaiknya pemerintah mulai menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dengan begitu, tekanan impor diperkirakan akan mulai berkurang pada 2019. Sementara untuk infrastruktur diharapkan pemerintah melakukan rescheduling temporer terhadap sejumlah proyek infrastruktur untuk menjaga defisit transaksi berjalan yang lebar.

Baca Juga: Jasa Perkapalan Sumbang Defisit Terbesar

“Pasalnya, CAD di Indonesia itu ada dua momok, yakni migas dan infrastruktur. Ini masih menjadi PR bagi kita. Makanya, pemerintah harus segera mengaddres CAD,” kata Adrian saat diskusi media di Jakarta, kemarin. Sementara itu, untuk kuartal IV tahun ini CAD diprediksi berada di angka 3% dari PDB. Dengan mengacu pada prospek CAD tersebut, maka rentang nilai tukar rupiah pada 2019 akan berada di level Rp14.400-15.200 per USD. Menurut Adrian, nilai fundamental rupiah bisa dihitung dengan melakukan dua pendekatan. Pertama, dengan melalui pendekatan daya beli dan inflasi. Kedua, dengan melakukan pendekatan perbedaan suku bunga.

grafik

Sementara bila dilihat secara fundamental, kata dia, dari perspektif purchasing power dan perbedaan longterm rates, nilai rupiah yang wajar untuk 2019 sebetulnya berada di kisaran Rp14.300- 14.800 per USD. Namun menurutnya, dengan memasukkan faktor sentimen dan faktor cross-currency movement, maka rentang perdagangan rupiah bisa mencapai Rp14.400-15.200 per USD. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan BI yang diperkirakan berlanjut akan menekan pertumbuhan ekonomi pada 2019 menjadi 4,9%. Sementara itu, dari sisi global yang akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari prospek berlanjutnya normalisasi suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR) sebanyak dua sampai tiga kali tahun depan.

Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan Berpotensi Membengkak, Ini Penyebabnya

Kemudian perlambatan ekonomi di China, prospek normalisasi moneter di Zona Eropa, gesekan geopolitik yang berimbas pada harga minyak, serta prospek berlanjutnya perang dagang antara AS dan China. Dia mengatakan, dinamika yang terjadi pada tingkat global itu akan menyebabkan rotasi antarkelas aset yang kemudian berdampak dengan berlanjutnya pergeseran kurs global. “Semuanya perlu direspons pemerintah lewat penyesuaian kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan. Harapannya agar daya tarik pasar keuangan domestik tetap terjaga,” katanya.

Menurut dia, jika tahun depan suku bunga acuan FFR naik dua sampai tiga kali dan posisi defisit transaksi berjalan belum membaik, maka BI diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) ke arah 6,50- 6,75%. Akan tetapi, kenaikan suku bunga acuan itu akan menyebabkan berkurangnya likuiditas di sistem keuangan domestik dan naiknya long-term rates sehingga volatilitas pasar finansial tahun depan akan lebih tinggi dari tahun ini. “Bila suku bunga acuan BI terus bergerak naik ke arah 6,50-6,75%, saya memperkirakan rerata yield obligasi tenor 10 tahun akan berada di kisaran 8,5% pada 2019 atau naik sekitar 100 bps dari rerata pada 2018,“ ujar Adrian.

Baca Juga: Menko Darmin Prediksi Defisit Transaksi Berjalan Turun di Kuartal IV

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, di tengah ekonomi global yang tidak kondusif, kinerja dan prospek ekonomi Indonesia cukup baik, stabilitas terjaga, dan momentum pertumbuhan terus berlanjut. Pertumbuhan ekonomi yang baik pada 2018 diperkirakan akan meningkat pada 2019 ditopang kuatnya permintaan domestik, baik investasi dan konsumsi maupun pihaknya juga mencatat pertumbuhan yang membaik di sejumlah wilayah NKRI. “Meskipun masih mendapat tekanan depresiasi nilai tukar rupiah relatif terjaga pada 2018 dan pekan akhir-akhir ini menguat,” kata Perry.

Pada 2019, BI memperkirakan pergerakan rupiah akan bergerak stabil sesuai mekanisme pasar. Menurut dia, stabilitas rupiah ditopang penurunan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih aman. Selain itu, stabilitas sistem keuangan terjaga dan kenaikan pertumbuhan kredit perbankan akan berlanjut pada 2019 dengan likuiditas cukup. “Pembiayaan dari pasar modal juga akan meningkatkan, kinerja ekonomi domestik didukung kelancaran sistem pembayaran, baik tunai maupun nontunai,” ujarnya.

(Kunthi Fahmar Sandy)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini