nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jurus Sri Mulyani Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global

Rikhza Hasan, Jurnalis · Selasa 04 Desember 2018 11:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 04 20 1986569 jurus-sri-mulyani-hadapi-ketidakpastian-ekonomi-global-ahHWJrY5Q8.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Indonesia tengah megalami ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi ekonomi global akan reda pada 2019.

Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global, pemerintah melakukan kebijakan insentif pajak untuk memperkuat industri dalam negeri dan menarik investasi sehingga permintaan domestik tetap terjaga.

“Pemerintah memberikan tax policy untuk memberikan insentif. Itulah yang kita harapkan untuk menjaga domestic demand. Di sisi lain, APBN-nya tetap kredibel, mandiri dan sustainable,” ujar Sri Mulyani, dikutip dari laman Kemenkeu, Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Baca Juga: Sri Mulyani Tingkatkan Kewaspadaan Gejolak Ekonomi Global

Namun demikian, Sri Mulyani mengingatkan kebijakan insentif pajak tersebut akan selalu ditinjau dengan prinsip tata kelola yang baik dan kehati-hatian.

Jangan sampai pengusaha memanfaatkan insentif pajak namun tidak menggunakan keuntungannya bagi investasi kembali di dalam negeri yang akan menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.

“Kami menggunakan instrumen fiskal untuk meningkatkan daya tarik (investasi). Jadi, tax holiday atau tax insentive tujuannya untuk mengurangi beban atau mengkompensasi loss sehingga mereka (perusahaan) mampu medapat rate of return untuk jangka menengah-panjang. Kami akan terus melakukan identifikasi sektor apa yang mendapatkan benefit apa dari kita (insentif pajak). (Seharusnya) Itu diinvestasikan lagi sehingga bisa meng-create job,” papar Menkeu.

Hal tersebut merupakan bentuk keberpihakan Pemerintah untuk memperkuat industri dalam negeri dan menarik investasi agar mengurangi Current Account Deficit (CAD).

 Baca Juga: BI Beberkan Tren Ekonomi Global yang Melambat

Indonesia cenderung tidak mengoptimalkan keunggulan yang dimiliki, tetapi mencari jalan mudah dengan mengekspor bahan mentah dengan harga murah dan mengimpor bahan jadi dengan harga mahal. Hal ini menjadikan ketergantungan Indonesia terhadap impor tinggi yang mengakibatkan terjadinya defisit transaksi berjalan (current account deficit).

“(Masalahnya itu) Current Account Deficit. Kita tahu masalahnya, tapi kita tidak pernah mau mengeksekusi penyelesaiannya. Kuncinya, kita tahu dari dahulu industrialisasi dan hilirisasi. Kalau kita dari dulu perkuat industri (dalam negeri), kita tidak perlu impor. Kalau belum bisa efisien, cari partner (untuk bangun industri hilir di Indonesia)” tegasnya. (dni)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini