nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pertumbuhan Ekonomi Asean Diprediksi Melambat di 2019

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 05 Desember 2018 21:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 05 20 1987386 pertumbuhan-ekonomi-asean-diprediksi-melambat-di-2019-qD6F2sROir.jpg Ilustrasi: Reuters

JAKARTA - Ketegangan AS-Tiongkok dan perlambatan permintaan Tiongkok akan membebani secara signifikan pada pertumbuhan Asia Tenggara, terutama untuk ekonomi yang bergantung pada ekspor tingkat tinggi ke Tiongkok. Di antara negara-negara Asia Tenggara, Singapura diperkirakan mengalami perlambatan paling tajam, dengan pertumbuhan PDB negara tersebut menjadi moderat dari 3,3% yang diharapkan pada 2018 menjadi 2,5% pada 2019.

Melansir keterangan, ICAEW Economic Insight, Rabu (5/12/2018), permintaan domestik kemungkinan akan memberikan bantuan di tengah prospek ekspor yang lebih sulit. Namun, kebijakan moneter diatur untuk menjadi kurang mendukung untuk bergerak maju karena sebagian besar bank sentral di Kawasan tersebut telah mulai menormalkan kebijakan moneter mereka dengan menaikkan suku bunga di tahun ini.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi RI 2019 Diprediksi Hanya 5%, Ini Analisanya

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi di Kawasan ini diperkirakan akan melambat pada 2019 hingga 5%, setelah diperkirakan 5,3% pada 2018, sebagai dampak dari konflik perdagangan AS-Tiongkok yang sedang berlangsung dan ketatnya kondisi moneter global.

Semetara itu, pertumbuhan PDB Malaysia melambat ke tingkat terendah dalam dua tahun. Di Malaysia, pertumbuhan PDB sedikit lebih rendah di Kuartal III menjadi 4,4% tahun ke tahun dari 4,5% di kuartal sebelumnya. Pertumbuhan diberatkan oleh gangguan sisi pasokan yang berkelanjutan di sektor pertambangan, sehingga terlihat pertumbuhan ekspor keseluruhan turun 0,8% pada tahun ini. Seiring pertumbuhan impor yang juga melambat tajam, ekspor bersih mengurangi 0,7% poin pada pertumbuhan tahunan Kuartal III.

Baca Juga: 5 Fokus Pembangunan RI, Kurangi Kemiskinan hingga Sepakat Jadi Negara Maju

Di sisi lain, permintaan privat yang kuat sedang berlangsung dan telah mengimbangi sektor eksternal yang lemah. Konsumsi rumah tangga melonjak di Kuartal III hingga naik 9% pada tahun ini karena didorong oleh tax holiday (pengurangan PPh) selama dua dari tiga bulan pada kuartal tersebut. Pertumbuhan investasi tetap juga melaju cepat menjadi 3,2% tahun ke tahun, didorong oleh investasi sektor swasta yang tumbuh 6,9% tahun ke tahun.

Ke depannya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini kuat sudah tidak mungkin untuk dipertahankan. Permintaan impor Tiongkok yang berkurang serta meningkatnya proteksi perdagangan akan melambat pertumbuhan ekspor. Dengan adanya konsolidasi fiskal, pertumbuhan PDB Malaysia diperkirakan akan berkurang dari 4,8% pada 2018 menjadi 4,5% pada 2019.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini