nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tol Jombang-Mojokerto Sepi Peminat hingga Uang Rupiah yang Segera Kadaluarsa

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 09 Desember 2018 09:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 08 320 1988567 tol-jombang-mojokerto-sepi-peminat-hingga-uang-rupiah-yang-segera-kadaluarsa-ZYPRzDKEbW.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Holding berencana untuk memangkas jumlah pabrik yang dimilikinya dari 41 menjadi 32. Nantinya pabrik tersebt akan dialihkan menjadi usaha lain.

Lalu ada kabar dari Tol Jombang - Mojokerto yang telah satu tahun diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Jalan tol tersebut, saat ini kondisinya mengenaskan karena sepi sekali para pengendara yang melalu jalan tol tersebut.

Kemudian ada uang yang akan segera kadeluarasa terhitung pada tanggal 30 Desember 2018. Uang tersebut merupakan pecahan uang yang diterbitkan pada periode 1998 dan 1999.

Ketiga berita tersebut yang menjadi populer selema sepekan belakangan di kanal Okezone Finance. Berikut Selengkapnya:

9 Pabrik Gula PTPN Dilikuidasi, Ini Alasannya.


PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Holding akan menyusun kembali operasional pabrik gula yang dimilikinya dengan mengefektifkan jumlah pabrik yang ada dari 41 menjadi 32 pabrik. Total ada sembilan pabrik gula yang akan dialihfungsikan menjadi usaha lain.

“Rencana ke depan ini, sesuai arahan Menteri BUMN Rini Soemarno kita akan melakukan regrouping pabrik gula. Artinya, kita akan mencari pabrik gula dengan skala ekonomi yang menggunakan teknologi yang sudah maju,” kata Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Persero (Holding) Dolly Pulungan di Jakarta.

Menurutnya, kapasitas produksi ke-32 pabrik gula tersebut kemudian akan ditingkatkan menjadi minimal 4.000 ton cane per day (tcd). Dolly menyampaikan kapasitas produksi dari beberapa pabrik gula tersebut masih di bawah 4.000 tcd.

“Nantinya akan kami samakan standarnya, semua sama, minimal kapasitas produksinya 4.000 hingga 10.000 tcd,” ungkap Dolly.

Dia menyebutkan PTPN Holding akan mengalihfungsikan sembilan pabrik gula dengan kapasitas di bawah 4.000 tcd menjadi tempat usaha lain. Misalnya sebagai hotel dan tempat pariwisata.

“Kami tidak akan melakukan pemecatan kepada para karyawan yang bekerja di pabrik gula tersebut, justru akan kami manfaatkan,” ujar Dolly.

Dengan demikian kapasitas produksi di pabrik gula milik PTPN akan meningkat menjadi sekitar 167.000 ton atau 202.000 tcd.

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong percepatan program revitalisasi pabrik-pabrik gula yang dikelola BUMN PT Perkebunan Nusantara Grup dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) untuk meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Deputi Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro mengatakan revitalisasi yang dilakukan meliputi peningkatan efisiensi, kapasitas giling, perbaikan kua litas gula, hingga hilirisasi produk.

“Hal ini dinilai penting dilakukan untuk mendukung program ketahanan pangan dan swa sembada gula nasional. Langkah tersebut akan memangkas biaya produksi gula BUMN sehingga gula dapat dijual dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Namun tanpa menge sampingkan upaya peningkatan kesejahteraan petani, mitra, karyawan, maupun keuntungan perusahaan negara,” katanya.

Wahyu menerangkan produksi gula BUMN hingga saat ini tercatat sekitar 1,16 juta ton yang terdiri atas PTPN Group sebanyak 856.000 ton, RNI 271.000 ton dan PT Gendhis Multi Manis (GMM) sebesar 35.500 ton.

Setahun Dibuka, Tol Jombang-Mojokerto Sepi Peminat

Setahun lebih dibuka tol Jombang-Mojokerto (Jomo) masih sepi peminat. Hingga kini jumlah pengguna tol yang tersambung dengan tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) itu masih mencapai angka 14.000 kendaraan per hari.

Tol Jomo dibuka pada September tahun lalu. Tol sepanjang 40,5 kilometer yang terbagi menjadi empat seksi tersebut hanya ramai di akhir pekan. Pertumbuhan pengguna jalan bebas hambatan ini terbilang masih kecil.

”Awal Januari lalu mencapai 10.000 kendaraan per hari. Saat ini 14.000 kendaraan,” kata Manajemen Pendapatan Tol (MPT) Jomo, Rifan Tsamany.

Rifan mengakui, jumlah pengguna tol saat ini masih jauh dari target, yakni 27.000 per hari. Menurut dia, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat masyarakat untuk menggunakan jalur bebas hambatan tersebut.

”Salah satunya dengan program Terima Kasih Pelanggan. Program ini memberikan undian bagi pengguna tol yang saat ini sedang berjalan,” ungkapnya.

Mengenai angka kecelakaan di jalur tol Jomo, Humas PT Marga Harjaya Infrastruktur (MHI) Tol Jomo, Dela Rosita, mengatakan, dalam sebelas bulan ini angka kecelakaan mencapai 139 kasus. Dari jumlah itu tiga pengendara meninggal dunia.

”Angka itu terbilang kecil dibanding panjang ruas tol,” kata Dela.

Umumnya kasus kecelakaan terjadi lantaran human error, seperti pecah ban, kelebihan batas maksimal kecepatan, dan sopir yang mengantuk. Padahal, menurut Dela, jalur tol Jomo terbilang aman jika pengendara patuh berlalu lintas.

”Kalau untuk jalur sangat aman. Pengawasan dan perawatan terus kami lakukan demi kenyamanan dan keamanan pengguna tol,” ucapnya.

Untuk mengurangi angka kecelakaan PT MHI telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan memasang papan batas kecepatan di setiap kilometer. Dengan begitu, pengguna tol akan lebih berhati-hati.

”Karena lebih banyak kecelakaan disebabkan pengendara yang memacu lebih dari 100 kilometer per jam yang merupakan batas tertinggi kecepatan kendaraan,” tuturnya.

Dela menyebut pihaknya telah bekerja sama dengan Korlantas untuk melakukan penindakan atas pelanggaran kecepatan dengan menggunakan speed gun. Kerja sama itu untuk mengurangi jumlah pelanggaran dan angka kecelakaan.

”Sudah beberapa kali dilakukan operasi bersama Korlantas untuk penindakan over speed,” tuturnya.

Lebih jauh Dela menjelaskan, ada beberapa titik tol yang perlu diwaspadai pengendara. Salah satunya di kilometer 697 seksi 1 dan kilometer 709 di kilometer 709. ”Tapi jika pola mengendara dan kondisi kendaraan yang normal, tidak akan terjadi laka lantas,” jaminnya. (Tritus Julan)

Terakhir 30 Desember, Punya Uang Rupiah seperti Ini Segera Tukarkan


Bank Indonesia (BI) melakukan pencabutan dan penarikan beberapa pecahan uang kertas Rupiah berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.10/33/PBI/2008, 25 November 2008

Seperti yang dilansir dari Setkab, Jakarta, Selasa (4/11/2018), pecahan uang kertas Rupiah yang dicabut dan ditarik itu adalah:

1. Rp10.000 Tahun Emisi (TE) 1998 (Gambar Muka: Pahlawan Nasional Tjut Njak Dhien)

2. Rp20.000 Tahun Emisi (TE) 1998 (Gambar Muka: Pahlawan Nasional Ki Hadjar Dewantara)

3. Rp50.000 Tahun Emisi (TE) 1999 (Gambar Muka: Pahlawan Nasional WR. Soepratman)

4. Rp100.000 Tahun Emisi (TE) 1999 (Gambar Muka: Pahlawan Proklamator Dr.Ir.Soekarno dan Dr. H. Mohammad Hatta).

“Bagi masyarakat yang masih memiliki uang pecahan emisi tersebut, dapat melakukan penukaran di seluruh kantor Bank Indonesia hingga 30 Desember 2018,” bunyi siaran pers Departemen Komunikasi Bank Indonesia.

Menurut siaran pers itu, Bank Indonesia membuka layanan penukaran sampai dengan 30 Desember 2018, termasuk layanan khusus pada 29-30 Desember 2018.

Bank Indonesia secara rutin melakukan pencabutan dan penarikan uang rupiah. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan antara lain masa edar uang, adanya uang emisi baru dengan perkembangan teknologi unsur pengaman (security features) pada uang kertas.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini