RI-Inggris Perkuat Kerja Sama Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 09 Desember 2018 10:59 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 09 320 1988770 ri-inggris-perkuat-kerja-sama-lingkungan-hidup-dan-kehutanan-DErLMNK0yv.jpg Foto: Menteri LHK Siti Nurbaya (Okezone)

KATOWICE- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia yang diwakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar kemarin melakukan pertemuan bilateral dengan Pemerintah Inggris yang diwakili dua menterinya di sela pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim (COP)-24 di Katowice, Polandia.

Mereka adalah Menteri Negara Urusan Asia Pasifik pada Departemen Luar Negeri dan Persemakmuran Mark Field serta Wakil Menteri Negara pada Departemen Lingkungan Hidup, Pangan, dan Perdesaan Therese Coffey.

Pertemuan bilateral ini membahas kerja sama Indonesia-Inggris yang sedang berlangsung serta komitmen untuk saling memperkuat kerja sama di sektor LHK.

“Dalam kurun waktu dua dekade, Indonesia-Inggris telah menjalin kerja sama yang sistematis dalam prinsip mutual respect dan trust, serta dengan kerangka kerja yang konseptual dan utuh,” ungkap Menteri LHK Siti Nurbaya dalam siaran pers yang diterima.

 Baca Juga: Ekspor Produk Kehutanan Capai USD52 Miliar

Kerja sama dengan Inggris telah dimulai sejak era 1990-an hingga saat ini Inggris juga mendukung berbagai upaya Indonesia memerangi dampak negatif perubahan iklim.

Berbagai kerja sama ini, kata Siti Nurbaya, hasilnya sangat berpengaruh signifikan pada sasaran nasional dan perbaikan-perbaikan mendasar sistem tata kelola, khususnya bidang kehutanan.

Salah satunya sistem legalitas kayu yang juga ikut menurunkan illegal logging dan deforestasi, serta meningkatkan tata kelola hutan seperti agenda Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

“Ini bagian dari kerja sama dengan Inggris yang monumental dan kita menghargai itu,” kata Siti Nurbaya.

 Baca Juga: Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi dan Kurangi Kemiskinan

Tahun ini sampai dengan 2022, lanjutnya, total bantuan Inggris untuk Indonesia sebesar 60 juta poundsterling dengan skema bilateral, multilateral, dan global program.

Melalui Pengakuan Legalitas Kayu Indonesia (SVLK), terbukti telah meningkatkan perdagangan kayu kedua negara. Inggris salah satu dari 10 tujuan ekspor produk kayu Indonesia. Tahun ini Indonesia telah mengeluarkan 6.892 dokumen V-legal untuk ekspor ke Inggris, senilai USD 255,23 juta.

Angka-angka itu menunjukkan peningkatan yang signifikan dari perdagangan pada 2013, ketika sertifikat V-legal yang diterbitkan hanya 2.481 dokumen dengan nilai ekspor sebesar USD132 juta.

Para menteri dari kedua negara juga sepakat untuk menata kembali kerja sama (MoU) khususnya dalam hal kerja sama dukungan kepada International Tropical Peat land Centre (ITPC).

Basis ITPC saat ini berada di dua kampus penelitian hutan di Bogor, yaitu Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi KLHK serta di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). (Nugroho)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini