nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bidik Milenial, 10% Lahan KEK Diminta untuk Nomadic Tourism

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 09 Desember 2018 13:11 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 09 320 1988787 bidik-milenial-10-lahan-kek-diminta-untuk-nomadic-tourism-pXwLmKEz0I.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Indonesia siap memasarkan wahana wisata embara atau nomadic tourism sebagai salah satu sarana untuk membidik pasar wisatawan milenial yang jumlahnya paling dominan saat ini.

Nomadic Tourism menjadi salah satu program unggulan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pada 2018. Setelah hampir setahun berjalan, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengapresiasi kesiapan dari industri pariwisata dalam mengembangkan nomadic tourism.

”Industri ternyata lebih siap dari yang saya duga. Maka kita akan langsung pasarkan dan Kemenpar akan membantu promosinya,” ujarnya.

Menurut Menpar, nomadic tourism adalah gaya berwisata baru di mana wisatawan dapat menetap dalam kurun waktu tertentu di suatu destinasi wisata, dengan amenitas yang portable dan dapat berpindah-pindah.

 Baca Juga: Segera Diresmikan, Realisasi Investasi KEK Galang Batang Rp5,6 Triliun

Wujudnya bisa berupa karavan, glamour camping, home pod, dan lain-lain. Menpar memandang nomadic tourism sebagai solusi terbaik dalam menjawab keterbatasan amenitas seperti perhotelan.

Menurutnya, konsep nomadic tourism juga sangat berorientasi pada pelanggan, dengan positioning yang jelas yaitu milenial sebagai pasarutamanya.

Untuk itu, Menpar menginstruksikan agar konten promosi atau iklan-iklan pariwisata bisa menyesuaikan dengan selera generasi milenial. ”Milenial ini pasar yang sangat besar. Turis yang datang ke Indonesia, 50%-nya itu milenial,” sebutnya.

 Baca Juga: Ada Kawasan Ekonomi Khusus, Pemda Babel Minta Pembangunan Jalan dan Air Bersih

Sebagai catatan, pada 2030, Asia akan menjadi rumah bagi 57% penduduk usia 15-38 atau yang populer dengan sebutan generasi Y atau generasi milenial.

Di China kaum milenial akan mencapai 333 juta, Filipina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand 19 juta, sedangkan Indonesia 82 juta. Sejalan dengan itu, pasar pariwisata Asia juga akan didominasi wisatawan milenial.

Sementara itu dari aspek pengembangan destinasi, Kemenpar akan mendorong pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dan Badan Otorita, terutama di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, agar mengalokasikan lahan untuk pengembangan nomadic tourism.

Hal ini diharapkan juga menjawab keluhan investor yang kesulitan mencari lahan. ”Saya akan meminta atau mewajibkan, 10% (dari lahan KEK) pertama yang dibangun harus nomadic. Tujuannya agar cepat tersedia amenitas, tidak harus menunggu. Nomadic itu mudah, murah, dan cepat,” tandasnya. Alam, budaya dan petualangan menjadi nafas dari nomadic tourism.

Maka, Indonesia yang memiliki 17.000 pulau dengan lebih dari 70.000 desa sangatlah potensial untuk mengembangkan wisata ini. Belum lagi kekayaan budaya dan keragaman suku yang bisa menjadi daya tarik wisata. Menpar pun mengaku optimistis dengan pengembangan nomadic tourismke depan.

Dengan filosofi dan tagline Solusi sementara sebagai solusi selamanya, menteri asal Banyuwangi itu memandang nomadicsebagai cara paling tepat membangun pariwisata di negara kepulauan seperti Indonesia.

”Kalau tidak dengan konsep nomadic tourism, saya tidak akan pernah bisa membangun satu pun hotel di Ende (Nusa Tenggara Timur), misalnya. Kalau dengan nomadic, daerah punya kesempatan yang sama,” tuturnya.

Menpar menambahkan, pengembangan nomadic tourism tidak hanya dilakukan oleh investor lokal melainkan juga akan ditawarkan kepada investor asing dengan proporsi yang diharapkan mencapai 50:50.

Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Rizki Handayani Mustafa mengatakan, terdapat unsur pengalaman yang kuat dalam konsep nomadic tourism dan hal ini sangat sesuai dengan selera milenial serta cocok untuk pelancong yang senang bertualang atau backpacker.

"Jumlah backpacker di dunia mencapai 39,7 juta orang,” sebutnya. Rizki menambahkan, Kemenpar bersama pemangku kepentingan tengah menyusun konsep dan model bisnis nomadic tourism yang akan disosialisasikan pada tahun 2019.

Direktur Utama Perum Damri Setia N. Milatia Moemin mengatakan, sejalan dengan nomadic tourism,Perum Damri berinovasi dengan mengkreasikan bus-bus menjadi hotel. Selain itu, Perum Damri juga membangun resor di Belitung dan mengembangan transportasi pariwisata.

”Nanti ada bus hop-on hop-off yang berkeliling setiap hari. Selain itu juga ada campervan dan ada shuttle-nya. Khusus untuk pariwisata ini kami bedakan branding-nya dari transportasi umum Damri yang sudah ada selama ini. Jadi, kami sedang transformasi menyeluruh,” tuturnya. (Inda Susanti)

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini