Marketing Outlook 2019: Pelaku Bisnis Harus Jeli Salip Para Pesaing

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 09 Desember 2018 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 09 320 1988788 marketing-outlook-2019-pelaku-bisnis-harus-jeli-salip-para-pesaing-T7dndghJvW.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - 2019 adalah tahun di mana dua ekonomi baru, yaitu Digital Economy dan Leisure Economy, mulai menemukan critical mass-nya dan akan menghasilkan the whole new world dengan jutaan peluang pasar dan bisnis baru.

Kenormalan baru sudah lamat-lamat menampakkan bentuknya dan setiap pelaku bisnis harus mulai jeli memasang insting bisnisnya agar bisa menyalip pemain lain (khususnya incumbent) di tengah kenormalan baru yang bakal lahir.

Memang betul pertumbuhan ekonomi kita stagnan, ogah beranjak dari 5%, namun para pelaku bisnis tak perlu resah. Kenapa? Karena kita sedang mengalami anomali pertumbuhan di mana begitu banyak output ekonomi yang tak tertangkap dalam angkagross domestic product(GDP) konvensional kita.

 Baca Juga: Panduan untuk Anda yang Baru Belajar Marketing!

Pertumbuhan yang flat cenderung turun adalah konsekuensi dari more-for-less economy, ekonomi baru superproduktif, yang mampu mengolah sumber daya minimal untuk menghasilkan output yang maksimal.

Platform digital memungkinkan pelaku ekonomi memangkas input 10 X lebih sedikit untuk menghasilkan output 10 X lipat lebih banyak.

Bagaimana wajah lanskap bisnis pada 2019? Ulasannya saya sederhanakan seperti bagan dalam gambar di samping .

 

Winter Is Coming: Trade War

Ada dua driver of changes utama yang bakal memengaruhi tahun 2019, yaitu di tingkat global (Winter Is Coming) dan kondisi politik yang bakal tidak menentu sebagai akibat digelarnya pemilu (Pemilu Effect) yang mendorong pelaku bisnis wait and see.

 Baca Juga: Setiap Bisnis Butuh Rencana Marketing, Cek Caranya!

Istilah Jokowi Winter Is Coming untuk menggambarkan dinamika ekonomipolitik global sungguh pas, di mana muncul tahta-tahta seperti digambarkan dalam film Game of Thrones: Ada tahta AS, tahta China, atau tahta ekonomi Eropa.

Masing-masing melakukan trade war untuk berebut pengaruh. Ketika sesama gajah bertarung, maka pelanduk mati di tengah-tengah. Nasionalisme ekonomi AS (America First) melawan China (dan Dunia) kini menemukan momentumnya saat kebijakan populis Trump menuai hasil luar biasa.

 Baca Juga: Ingin Sukses? Pancing Konsumen dengan Push and Pull Marketing

Setelah dicaci-maki di mana-mana, kini Trump menjadi hero di negaranya karena mampu mewujudkan America Great Again, janjinya saat kampanye. Sungguh mengagetkan pengumuman World Economy Forum(WEF) bulan lalu yang menempatkan AS sebagai The World’s Most Competitive Economy setelah 10 tahun kecolongan posisi bergengsi ini.

Ketika kebijakan nasionalisme ekonomi Trump mendapat angin segar, maka trade warantartahta akan makin intensif. Dan, ketika sesama gajah saling bertarung, maka pelanduk-pelanduk (termasuk Indonesia) akan sengsara di tengah-tengah.

Pemilu Effect: Wait and See

Di dalam negeri, bagaimana dengan pengaruh pemilu tahun depan ke dunia bisnis? Akankah volatiledan uncertain? Atau, sebaliknya adem-ayem? Tergantung. Tapi, yang jelas pelaku bisnis akan wait and see.

Ada dua momen politik yang mereka tunggu: Pertama, bulan April saat muncul nama presiden baru terpilih. Kedua, bulan Oktober saat kabinet baru terbentuk. Skenarionya, kalau Jokowi- Amin terpilih, maka kondisinya akan cenderung ademayem karena besar kemungkinan presiden baru akan melanjutkan kebijakan-kebijakan sebelumnya tanpa ada perubahan drastis dan uncertain.

Pelaku bisnis juga bisa menebak bagaimana format kabinet dan arah kebijakannya. Namun, bila Prabowo-Sandi yang terpilih, maka pelaku bisnis akan lebih waswas dan terus menduga-duga arah kebijakan ekonomi-bisnis pemerintahan baru.

Bisa dipastikan pemerintahan baru akan mengambil posisi detrimental: mencari simpati dengan membalik arah semua kebijakan pemerintah sebelumnya.

Perubahan-perubahan drastis yang ditimbulkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah baru yang detrimental ini tentu menimbulkan ketidakmenentuan dan ketidakpastian setidaknya pada masa-masa awal pemerintahan. Setiap pelaku bisnis harus mumpuni beradaptasi perubahan-perubahan drastis ini.

(Tulisan pertama dari dua tulisan)

Yuswohady

 

Managing Partner Inventure www.yuswohady.com

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini