nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3 Tantangan Kurangi Jumlah Desa Tertinggal, dari Bencana Alam hingga Keamanan

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 10 Desember 2018 15:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 10 320 1989237 3-tantangan-kurangi-jumlah-desa-tertinggal-dari-bencana-alam-hingga-keamanan-fTmZqdlrgA.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (SBPS) mencatat penurunan jumlah desa tertinggal pada periode 2014 hingga 2018. Jumlah desa tertinggal berkurang 6.518 desa.

Capaian tersebut patut diberikan apresiasi, namun pemerintah tidak boleh untuk berpuas diri karena masih banyak desa yang perlu dibenahi. Adapun jumlah desa tertinggal saat ini sebanyak 14.461 desa atau jika di presentasikan sebesar 19,17% dari seluruh desa yang ada di Indonesia.

Kepala BPS Suahriyanto mengatakan, ada tiga faktor yang menjadi tantangan pemerintah dalam membangun pedesaan. Pertama adalah bencana alam, selanjutnya adalah pencemaran dan yang terkahir adalah gangguan keamanan.

Khusus tantangan pertama atau faktor bencana alam, pemerintah harus mulai memikirkan upaya pencegahan terhdap bencana alam di pedesaan. Salah satunya dengan memfokuskan terhdap program Sustainable Development Gold (SDG).

Baca Juga: Masih Ada 14.461 Desa Tertinggal, Papua dan Kalimantan Terbanyak

Sebab menurutnya, jika tanpa program SDG tersebut, potensi pertumbuhan ekonomi pedesaan akan jatuh, pasalanya pedesaan di Indonesia memiliki potensi bencana alam yang cukup tinggi. Berdasarakan data yang dimiliki jumlah bencana alam banjir yang terjadi di pedesaan sekitar 19.675 desa, 10.246 untuk tanah longsor dan 10.115 untuk bencana alam gempa bumi.

Oleh karenanya, pria yang kerap disapa Kecuk itu menambahkan, untuk meminimalisir hal tersebut perlu adanya antisipasi bencana alam di wilayah desa atau kelurahan. Berdasarkan data Pondes, jenis mitigasi bencana alam yang terdapat di desa yakni berupa sistem peringatan dini bencana alam yang tersebar di 7.968 desa. Kemudian, untuk jalur evakuasi baru terdapat di 5.048 desa, penyediaan perlengkapan keselamatan tersebar di 2.738 desa, dan terakhir untuk sistem penyediaan peringatan dini tsunami baru 634 desa.

"Desa yang terkena bencana alam dapat menimbulkan kerusakan tempat tinggal, fasilitas umum, bahkan menimbulkan korban manusia. Itu tamparan ada SDG khususnya bagiamana menangani perubahan iklim. Misalnya di sana kita harus memperkuat ketahanan dan adaptasi terhadap bahaya ," ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (10/12/2018).

Baca Juga: Lewat Dana Desa, Presiden Jokowi Berhasil Perbaiki Infrastruktur di Pedesaan

Tantangan yang kedua adalah bagaimana masih banyaknya pedesaan yang terkena pencemeran baik itu udara ataupun air bersih. Berdasarakan data BPS pencemaran terjadi pada 16.847 desa, pencemaran udara sebanyak 8.882 desa, dan pencemaran tanah di 2.200 desa. Di mana pencemaran ini dapat bersumber dari rumah tangga, pabrik atau industri serta yang lainnya.

"Kedua masih banyak desa yang terkena pencemaran. Kita harus berupaya agar ini bisa di hadapi," kata Kecuk

Kemudian, terakhir yakni faktor keamanan. Menurut Kecuk, kemananan menjadi penting mengingat lingkungkan merupakan salah satu faktor utama kenyamanan suatu wilayah.

"Kejadian penyalahgunaan atau peredaran narkoba dan perkalihan masal merupakan salah satu gangguan kemamanan di desa atau kelurahan," ucapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini