nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tren Industri Periklanan Mengarah ke Digital

Jum'at 14 Desember 2018 13:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 14 320 1991240 tren-industri-periklanan-mengarah-ke-digital-cLl9kvaxrS.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Country CEO Dentsu Aegis Network (DAN) Maya Watono menyebut arah industri periklanan atau advertising ke depannya akan mengarah ke digital. Pasalnya era digital semakin berkembang membuat industri mengarahkan cara promosinya yang awalnya masih konvensional menuju arah digital. Namun begitu, Maya menilai media konvensional seperti televisi memiliki jangkauan yang jauh lebih tinggi dibandingkan digital.

“Jika ditanya paling efektif, saya kira agak susah menjawabnya. Karena Indonesia ini memiliki banyak kepulauan dan penduduk. Sehingga untuk menjangkau keseluruhan maka paling layak adalah televisi. Namun ke depannya digital akan melonjak seiring dengan infrastruktur digital di Indonesia yang semakin berkembang,” ungkap Maya dilansir dari Harian Neraca, Jumat (14/12/2018).

Baca Juga: Akan Ada Iklan di WhatsApp

Meskipun begitu, Maya mengatakan saat ini kondisi pasar memang sedang melambat. Apalagi jika berbicara mengenai disrupsi, terutama dari sisi digital, sangat penting bagi kita untuk bisa menyikapi tantangan yang sedang terjadi saat ini. Karena disrupsi adalah global trend, yang lalu menjadi ASEAN trend, dan sekarang menjadi Indonesian trend. Jadi tidak bisa dipungkiri dengan adanya fenomena ini, business model pun sudah berubah, yang tadinya konvensional, sekarang semuanya sudah mengarah ke digital.

“Apalagi tahun 2019 adalah tahun politik. Situasi politik selama periode kampanye, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden menjadi pertimbangan untuk para pemasang iklan untuk tetap beriklan atau cenderung wait and see. Kondisi akhir tahun 2018 bisa menjadi gambaran. Ketika situasi ekonomi kurang baik bagi industri, yang ditandai meroketnya nilai dolar Amerika belanja iklan terkena dampaknya. Belanja iklan 2018, menurut Nielsen sampai dengan Oktober 2018, hanya bertumbuh 4%,” jelas Maya yang merupakan ibu dari tiga anak.

Sebagai pemimpin puncak perusahaan periklanan DAN Indonesia, untuk menyikapi perkembangan zaman Maya mendigitalisasi SDM, proses bisnis, dan klien. SDM merupakan ujung tombak perusahaan periklanan dan harus diberikan senjata-senjata anyar guna memperkuat daya saing perusahaan.

“Dengan tegas perusahaan memprioritaskan penanganan SDM, baik dari segi regional maupun inisiatif sendiri. Kami juga menyiapkan pelatihan, software, dan tools untuk dapat mengerti market yang sedang berkembang. Setiap talent dilengkapi dengan pengetahuan digital dan workflow agar bisa beradaptasi dengan lanskap digital terkini,” terang Maya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini