nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gandeng Swiss hingga Islandia, Mendag: Ekonomi Indonesia Lebih Kuat dan Menarik

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Minggu 16 Desember 2018 18:39 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 16 320 1992064 gandeng-swiss-hingga-islandia-mendag-ekonomi-indonesia-lebih-kuat-dan-menarik-LMyx18SkYr.jpeg Foto: Menteri Perdagangan Enggartiasto (Yohana/Okezone)

JAKARTA - Indonesia menjalin perjanjian kerjasama perdagangan dengan negara anggota European Free Trade Association (EFTA), yakni Swiss, Leichtenstein, Norwegia, dan Islandia. Hal ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan kerja sama perdagangan secara komprehensif atau lndonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (lE-CEPA) oleh kelima negara tersebut pada hari ini, Minggu (16/12/2018) di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Penandatanganan naskah perjanjian lE-CEPA dilakukan Menteri Perdagangan Rl Enggartiasto Lukita bersama Kepala Departemen Hubungan Ekonomi Swiss Johann N. Schneider-Ammann, Menteri Hubungan Luar Negeri, Hukum, dan Budaya Liechtenstein Aurelia Frick, Sekretaris Negara/Wakil Menteri Perdagangan Kerajaan Norwegia Daniel Bjarmann-Simonsen, serta Duta Besar Islandia untuk Indonesia Hannes Heimisson.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, perundingan IE-CEPA berlangsung selama hampir delapan tahun sebelum akhirnya dinyatakan selesai secara substantif oleh para juru runding dalam pertemuan di Bali pada 29 Oktober-1 November 2018, dan dideklarasikan final oleh para Menteri pada 23 November 2018 di Jenewa, Swiss.

Baca Juga: Akses Perdagangan Indonesia ke Eropa Terbuka Lebar

Adapun Perjanjian IE-CEPA mencakup isu-isu perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, hak kekayaan intelektual, pembangunan berkelanjutan, ketentuan asal dan bea cukai, fasilitasi perdagangan, pengamanan perdagangan, persaingan usaha, legal, serta kerja sama dan pengembangan kapasitas.

"lndonesia percaya bahwa Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan EFTA ini akan membawa ekonomi Indonesia lebih kuat, berdaya saing, dan menarik bagi investor dari negara-negara maju anggota EFTA,” kata Enggar.

Enggar juga meyakini perjanjian ini akan memberikan keuntungan besar tak hanya bagi perdagangan Indonesia, tapi juga bagi empat negara tersebut. Pasalnya, perjanjian itu menjadi landasan hukum bagi lima negara untuk menciptakan iklim perdagangan yang bebas dan adil.

"Ini ditandatangani sebagai solusi yang komprehensif yang akan meng-cover open market access, menguatkan kepastian hukum kita (lima negara), meningkatkan fasilitas perdagangan dan kemudahan berbisnis bagi kita demi mendorong peningkatan kapasitas keberlanjutan kerjasama perdagangan," jelas dia.

kemendag

Enggar menjelaskan, penandatanganan perjanjian ini berlangsung di tengah melemahnya perdagangan dunia dan berlanjutnya ketidakpastian perdagangan antarnegara di tahun 2019 dan tahun-tahun selanjutnya. Meski demikian, di tengah situasi tersebut perjanjian kelima negara ini memberikan sinyal positif pada dunia bahwa hubungan ekonomi yang bersahabat melalui sebuah perjanjian preferensi tetap jadi pilihan terbaik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Dengan menandatangani kesepakatan ini, Indonesia dan negara-negara EFTA menunjukkan komitmen kuat terhadap sistem perdagangan multinational yang lebih terbuka, adil, dan berdasarkan aturan yang kokoh. Ini menjadi sangat relevan terhadap kondisi global saat ini," kata dia.

Sekedar diketahui, sebelum akhirnya secara resmi ditandatangani hari ini, negosiasi untuk merampungkan perjanjian dagang tersebut sudah dimulai sejak Juli 2010 dengan perundingan putaran pertama dilaksanakan awal 2011 di Jakarta. Sejak saat itu, 15 putaran perundingan dan pertemuan kepala delegasi dan ahli terus dilakukan, hingga akhirnya 8 tahun perundingan menghasilkan perjanjian bersama.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini