nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Buka Moratorium, Hotel Bintang 5 Bisa Kembali Dibangun di Yogyakarta

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 03 Januari 2019 08:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 03 470 1999268 buka-moratorium-hotel-bintang-5-bisa-kembali-dibangun-di-yogyakarta-F7vVNKJWfN.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

YOGYAKARTA – Sebagai antisipasi melonjaknya wisatawan setelah bandara baru beroperasi, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta membuka moratorium pembangunan hotel secara terbatas. Pembukaan moratorium ini secara resmi dilakukan per 1 Januari 2019.

Pemkot Yogya hanya mengizinkan pembangunan hotel bintang lima, bintang empat, dan guest house atau rumah singgah. Pencabutan moratorium ini tertuang dalam Peraturan Wali Kota (Perwal) Yogyakarta Nomor 85/2018 tentang Pengendalian Pembangunan Hotel bertanggal 31 Desember 2018.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyebut pencabutan moratorium ini sebagai antisipasi wisatawan yang diprediksi meningkat setelah bandara baru di Kulonprogo beroperasi.

“Pembatalan moratorium perhotelan ini sebagai antisipasi melonjaknya jumlah wisatawan yang diperkirakan meningkat seusai bandara New Yogyakarta Internasional Airport,” ujar Heroe di Balai Kota kemarin.

Baca Juga: Lombok Bakal Miliki Hotel Bawah Laut

Saat ini ada 624 hotel dengan jumlah kamar 20.000. Jumlah ini diprediksi tidak akan ma m - pu mencukupi jumlah kedatangan 15.000-20.000 penumpang per hari saat bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) beroperasi.

“Kebutuhan akan hotel bintang lima dan empat masih sangat kurang. Saat ini jumlah hotel berbintang lima hanya empat dan bintang empat baru ada 13,” paparnya.

Menurut Heroe, dengan memberi izin pembangunan hotel bintang lima dan empat, diharapkan kamar jadi bertambah tanpa harus menambah jumlah hotel baru.

Jika izin diberikan ke tingkat lebih rendah, kemungkinan bertambahnya hotel akan meningkat. “Keberadaan hotel bintang lima dan empat juga memiliki keuntungan karena adanya jaringan yang bisa mendatangkan wisatawan secara mandiri,” katanya.

Ketua DPD PAN Kota Yogyakarta ini menegaskan, ada dua hal yang wajib ditaati dalam pembangunan hotel bintang lima dan empat. Pertama, semua proses perizinan harus mendapatkan rekomendasi dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), sehingga sejak awal mengajukan izin mendirikan bangunan (IMB) tertera jelas peruntukan bangunan. Kedua, seluruh hotel di Kota Yogyakarta wajib menggunakan air PDAM.

Baca Juga: Ada Hotel Kapsul di Atas Kapal, Netizen: Dahsyat seperti di Jepang

Hotel dilarang menggunakan air tanah. “Dua hal ini wajib ditaati,” ujarnya. Mengenai guest house , Heroe yakin hal ini akan memberi dam pak bagi perekonomian masyarakat. Ke depan Pemkot juga akan mengeluarkan petunjuk teknis bagaimana guest house melayani wisatawan.

Ketua PHRI DIY Istijab Danunegoro menyebut keberadaan kamar hotel di Yogyakarta masih kurang, utamanya saat libur panjang. Meski begitu, sebenarnya sulit bagi investor untuk mendirikan hotel bintang lima, mengingat masalah teknis keterbatasan lahan di Yogyakarta.

Alasannya, untuk 100 kamar hotel bintang lima dibutuhkan lahan paling sedikit 2.500 meter persegi, untuk hotel bintang empat 2.400 meter persegi. Luas lahan ini belum ditambah lahan untuk parkir. “Salah satu jalannya investor mengakuisisi hotel yang sudah mati. Saat ini terdapat 22 hotel di Yogya yang tidak beroperasi,” katanya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini