Peringatan IMF, Pertumbuhan Ekonomi Global Dipangkas

Ade Rachma Unzilla , Jurnalis · Sabtu 26 Januari 2019 06:08 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 25 213 2009429 peringatan-imf-pertumbuhan-ekonomi-global-dipangkas-OKGsuiibMG.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2019 sebesar 0,2%. Pertumbuhan ekonomi global ini diprediksi melambat menjadi 3,5% dibanding proyeksi sebelumnya 3,7%.

Berikut sederet fakta mengenai IMF turunkan proyeksi ekonomi yang sudah dirangkum oleh Okezone, Sabtu (25/1/2019) :

1. Lemahnya perekonomian di sejumlah negara menjadi penyebabnya

Turunnya proyeksi tersebut didasarkan karena masih lemahnya pertumbuhan di sejumlah negara. Contohnya China yang pada Senin (21/1) melaporkan perekonomian hanya tumbuh 6,6% sepanjang 2018. Ini merupakan angka terendahnya dalam 28 tahun terakhir. Selain China, negara di Eropa juga mengalami pelemahan pertumbuhan.

2. Ada sejumlah sentimen negatif

Sentimen negatif akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China juga menjadi pemicu lemahnya pertumbuhan ekonomi global.

Sentimen negatif juga muncul dari AS yang hingga kemarin masih belum juga menemukan jalan terbaik untuk menghentikan kebuntuan negosiasi anggaran tahunan. Pemerintah AS pimpinan Donald Trump belum sepakat dengan parlemen terkait anggaran 2019 sehingga menyebabkan shutdown berkepanjangan.

3. 2019 Menjadi Tantangan bagi RI

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, hal ini menjadi tantangan untuk negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Kendati, gejolak perekonomian global di tahun ini dianggapnya tidak separah tahun lalu.

“Ini adalah tantangan dari sisi bahwa momentum yang berasal dari eksternal akan melemah, dan guncangan mungkin akan masih terjadi meskipun tidak seperti tahun 2018,” ujarnya.

4. Pemerintah menyiapkan instrumen fiskal melalui insentif pajak untuk para pelaku usaha

Dengan mempertimbangkan segala kondisi eksternal tersebut, Pemerintah Indonesia berupaya meyakinkan para pelaku usaha dengan menyiapkan instrumen fiskal melalui insentif pajak.

“Kita berikan tax holiday, tax deductable, mobil listrik, berbagai insentif itu diharapkan akan menggerakkan sektor riil sehingga pertumbuhan dijaga di 5,3% dan inflasi di level 3,5%,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, ada hal lain yang bisa mengurangi kekhawatiran secara global yakni kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga secepat dulu. “Mereka akan lebih sabar menunggu. Itu bagus.Kita tidak akan menghadapi tekanan seperti tahun lalu," paparnya.

5. Pemerintah akan fokus menjaga faktor pertumbuhan

Pemerintah saat ini akan fokus menjaga faktor pertumbuhan dan stabilitas ekonomi di dalam negeri. Hal ini demi menjaga agar perekonomian di dalam negeri tidak tergerus terlalu dalam.

“Kita tetap fokus bagaimana menjaga faktor-faktor pertumbuhan dan stabilitas ekonomi kita di dalam lingkungan yang berubah secara sepat,” kata Sri Mulyani. (yau)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini