nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OJK Targetkan 100 Startup Bisa Go Public

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 19 Februari 2019 10:55 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 19 278 2019948 ojk-targetkan-100-startup-bisa-go-public-841rn1FNTW.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung beberapa perusahaan rintisan atau startup yang sudah mengikuti IDX Incubator untuk menjadi emiten dengan melakukan Initial Public Offering (IPO) atau go public. IDX Incubator ini merupakan program Bursa Efek Indonesia (BEI) berupa ruang inkubasi yang mewadahi startup berbasis teknologi.

“Dan ini sudah berjalan sekitar dua hingga tiga tahun. Harapan kita ada beberapa perusahaan IDX Incubator bisa melakukan IPO. Dukungan ini terkait supply side, terkait infrastruktur sehingga bisa ditawarkan lebih efisien karena menggunakan teknologi informasi,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Jakarta, kemarin.

Hoesen menuturkan, OJK juga menargetkan perusahaan yang melakukan pencatatan saham di BEI sebesar 75-100 emiten.

Baca Juga: Sri Mulyani Tekankan Pentingnya Anggaran Kembangkan Unicorn

Menurut Hoesen, penambahan emiten tersebut merupakan salah satu cara dalam menambah suplai untuk meningkatkan pendalaman pasar modal. Pasalnya, pasar modal Indonesia dinilai masih dangkal sehingga perlu ditingkatkan jumlah suplai efek yang bisa dipilih investor.

“Pendalaman pasar hanya bisa dilakukan dengan menambah supply dan demand serta memperbaiki infrastruktur agar supply demand bisa tumbuh banyak,” kata dia.

Dengan target emiten 75-100 emiten, tahun ini ditargetkan nilai emisi di pasar modal bisa mencapai Rp200 triliun sampai dengan Rp250 triliun. Adapun penghimpunan dana di pasar modal tahun 2018 masih tinggi, yakni mencapai Rp162,3 triliun.

Jumlah ini terbilang positif di tengah tekanan ekonomi global. Ke depan OJK akan terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mendorong perusahaan untuk IPO di bursa efek. OJK juga akan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak dan perbankan untuk mendapatkan data-data perusahaan yang potensial untuk IPO.

Hoesen menuturkan, untuk mendukung pembiayaan pembangunan jangka panjang, OJK memberikan izin pendanaan melalui Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIKEBA) terkait infrastruktur dengan nilai sekuritisasi pada tahun lalu sebesar Rp7,44 triliun serta Dana Investasi Real Estate (KIK-DIRE) dengan nilai sekuritisasi sebesar Rp620 miliar. OJK juga mendorong emiten infrastruktur untuk fund raising di pasar modal, karena tercatat 24 penawaran umum yang dilakukan 22 emiten sektor infrastruktur melakukan fund raising melalui pasar modal dengan total nilai emisi Rp28,05 triliun pada 2018.

Baca Juga: Tak Lagi Mitos, Startup Menjelma Jadi Unicorn di Dunia Ada 325

Di sisi lain, pasar modal Indonesia mulai menerapkan percepatan penyelesaian transaksi bursa saham dari sebelumnya pada hari bursa ke-3 (T+3) menjadi hari bursa ke-2 setelah hari pelaksanaan transaksi bursa (T+2). Program percepatan transaksi bursa T+2 ini merupakan upaya pengembangan pasar modal Indonesia agar bisa berdaya saing global dengan tetap memberikan kontribusi bagi per ekonomian nasional. Pelaksanaan transaksi bursa T+2, menurut Hoesen, memiliki tujuan meningkatkan likuiditas melalui percepatan reinvestment dari modal investor maupun efisiensi operasional serta menambah kapasitas transaksi perusahaan efek.

“Hal ini sudah menyesuaikan dengan internasional best practice dalam peningkatan efisiensi penyelesaian transaksi bursa dan implementasi T+2 di pasar modal global, seperti Jerman, Hong Kong, India, Korea Selatan, Rusia, Taiwan, dan Thailand,” kata Hoesen.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini