nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

The Fed Diyakini Tak Agresif, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga

Rabu 20 Maret 2019 12:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 20 20 2032528 the-fed-diyakini-tak-agresif-bi-diprediksi-tahan-suku-bunga-9uBFK2dn07.jpg Bank Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA – Ekonom BNI Ryan Kiryanto memprediksi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 6% dengan beberapa pertimbangan dari faktor eksternal dan internal.

“Dari faktor eksternal, diyakini arah gerak suku bunga The Fed atau Fed Fund Rate (FFR) semakin longgar di mana The Fed tidak lagi agresif menaikkan FFR mengingat sdh ada indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi AS di bawah 3% disertai laju inflasi mendekati 2%,” kata Ryan Harian Neraca, Rabu (20/3/2019).

Menurut dia, pilihan The Fed ada dua yaitu antara menahan FFR di level saat ini yg 2,25%-2,50% hingga akhir tahun 2019 atau menaikkan FFR hanya sekali sebesar 25 bps menjadi 2,5%-2,75% hingga akhir tahun 2019.

“Bahkan ada yang menghendaki FFR turun 25 bps menjadi 2,0%-2,25% hingga akhir tahun 2019 untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi AS. Sejumlah bank sentral di dunia juga cenderung menahan suku bunga acuannya dan beberapa bank sentral malah sudah menurunkan suku bunga acuan (BOJ, ECB),” katanya.

Baca Juga: Gubernur BI: Suku Bunga Acuan Hampir Capai Puncaknya

Dari faktor internal, kata Ryan, BI dan pemerintah memiliki sikap yang sama, yakni stability over growth, sehingga pilihan paling rasional dan taktis adalah RDG BI tetap menahan BI 7 Days Reverse Repo Rate di level 6%.

“Juga deposit facility dan lending facility di level yang tetap. Level bunga acuan yang 6% saat ini sesungguhnya sudah priced in atau factored in dimana level 6% ini sudah mempertimbangkan peluang FFR naik 25-50 bps di tahun 2019 ini,” jelasnya.

Baca Juga: Chatib Basri Sebut Ruang Penurunan Suku Bunga Acuan BI Sempit

Langkah BI yang tahun 2018 lalu secara agresif menaikkan BI 7DRRR sebesar 175 bps dari 4,25% ke 6% merupakan langkah preemptive dan ahead the curve yang tepat mengiringi kenaikan FFR 100 bps saat itu sehingga jika RDG BI saat ini tidak menaikkan BI 7DRRR alias tetap 6% adalah langkah tepat.

“Keputusan ini bisa membantu penguatan daya tahan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal (trade war, risiko geopolitik dan brexit), menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya rupiah, dan mempertahankan daya tarik investor asing untuk memegang aset dalam rupiah karena lebih atraktif,” imbuhnya.

Disamping itu, membantu masuknya dana asing atau capital inflows yang dapat menguatkan kurs rupiah, IHSG di BEI serta memperkecil defisit transaksi berjalan (CAD) menjauhi 3% dari PDB. “Momentum pertumbuhan pun masih bisa dikelola dengan baik. Ditahannya BI 7DRRR akan disambut gembira kalangan perbankan, sektor riil dan investor portofolio karena level 6% ini dinilai akomodatif,” pungkasnya.

Ekonom Chatib Basri menyebut sinyal The Federal Reserve yang cenderung dovish akan memberikan sinyal kuat bagi BI lebih bersabar untuk tidak menaikkan bunga acuan. Terlebih lagi, Indonesia menghadapi tantangan transaksi berjalan yang masih defisit. Dalam catatan BI, pada triwulan keempat 2018, transaksi berjalan defisit US$ 9,1 miliar atau 3,57% Produk Domestik Bruto (PDB), naik dari defisit pada kuartal sebelumnya sebesar US$ 8,6 miliar atau 3,28% dari PDB.

"Apakah Bank Indonesia akan turunkan bunga? Dengan defisit transaksi berjalan yang menganga, ruang menurunkan masih agak sulit," kata Chatib Basri. Meski demikian, Chatib memproyeksikan, pada tahun ini, pasar keuangan akan kembali bergairah, baik di pasar modal maupun pasar obligasi. Sedangkan nilai tukar Rupiah diperkirakan kembali menguat. "Jika Fed Fund Rate bertahan di level 2,25-2.5% dan yield bond US Treasury 10 tahun mungkin di level 2,6%, sedangkan yield obligasi kita 7,6%. Pasar obligasi kita sangat bullish," tuturnya.

Dijelaskan Chatib, kemungkinan adanya ruang untuk menurunkan bunga acuan Bank Indonesia masih akan ditentukan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. "Rupiah menguat dari Rp 15.000/US$ ke Rp 13.900/US$. Pesan apa, artinya penguatan Rupiah terjadi tahun ini, kemungkinan Fed akan satu kali naikkan bunga atau bahkan menghentikan bunga tahun ini," imbuhnya.

Sebagai informasi, tahun lalu, Bank Indonesia mengerek bunga acuan sebanyak 175 basis poin ke level 6%, kebijakan itu ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan defisit transaksi berjalan.

1 / 2
GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini