nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

The Fed Diyakini Tak Agresif, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga

Rabu 20 Maret 2019 12:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 20 20 2032528 the-fed-diyakini-tak-agresif-bi-diprediksi-tahan-suku-bunga-9uBFK2dn07.jpg Bank Indonesia (Foto: Okezone)

Ekonom Chatib Basri menyebut sinyal The Federal Reserve yang cenderung dovish akan memberikan sinyal kuat bagi BI lebih bersabar untuk tidak menaikkan bunga acuan. Terlebih lagi, Indonesia menghadapi tantangan transaksi berjalan yang masih defisit. Dalam catatan BI, pada triwulan keempat 2018, transaksi berjalan defisit US$ 9,1 miliar atau 3,57% Produk Domestik Bruto (PDB), naik dari defisit pada kuartal sebelumnya sebesar US$ 8,6 miliar atau 3,28% dari PDB.

"Apakah Bank Indonesia akan turunkan bunga? Dengan defisit transaksi berjalan yang menganga, ruang menurunkan masih agak sulit," kata Chatib Basri. Meski demikian, Chatib memproyeksikan, pada tahun ini, pasar keuangan akan kembali bergairah, baik di pasar modal maupun pasar obligasi. Sedangkan nilai tukar Rupiah diperkirakan kembali menguat. "Jika Fed Fund Rate bertahan di level 2,25-2.5% dan yield bond US Treasury 10 tahun mungkin di level 2,6%, sedangkan yield obligasi kita 7,6%. Pasar obligasi kita sangat bullish," tuturnya.

Dijelaskan Chatib, kemungkinan adanya ruang untuk menurunkan bunga acuan Bank Indonesia masih akan ditentukan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. "Rupiah menguat dari Rp 15.000/US$ ke Rp 13.900/US$. Pesan apa, artinya penguatan Rupiah terjadi tahun ini, kemungkinan Fed akan satu kali naikkan bunga atau bahkan menghentikan bunga tahun ini," imbuhnya.

Sebagai informasi, tahun lalu, Bank Indonesia mengerek bunga acuan sebanyak 175 basis poin ke level 6%, kebijakan itu ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan defisit transaksi berjalan.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini