nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kejar Ketertinggalan dari Korsel dan China, BPPT Siapkan Program Inovasi

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 20 Maret 2019 13:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 20 20 2032568 kejar-ketertinggalan-dari-korsel-dan-china-bppt-siapkan-program-inovasi-6gsCH13UkK.jpg Foto: Kongres Teknologi Nasional

JAKARTA - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengakui jika Indonesia saat ini tertinggal jauh dari negara maju seperti China dan Korea Selatan. Padahal pada 1960, perekonomian RI dengan kedua negara tersebut masih sejajar.

Oleh karena itu, BPPT sudah menyiapkan beberapa program inovasi teknologi yang akan dikembangkan guna mengejar ketertinggalan. Program tersebut akan dituangkan dalam tagline Bermula di Akhir dan Berakhir di Awal.

"Untuk mengejar negara maju menggunakan ‘Bermula di Akhir dan Berakhir di Awal’," ujarnya dalam acara Kongres Teknologi Nasional (KTN) di Kantor BPPT, Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Baca Juga: Sri Mulyani: Mengelola Ekonomi Tidak seperti Fisika, Tak Pasti

Dalam menjalankan program tersebut, BPPT akan mengedepankan tiga aspek sesuai dengan visi misi dari BPPT. Pertama adalah solid, lalu smart. Maksudnya bagaimana BPPT bisa mendorong pengembangan kualitas dari Sumber Daya Manusia (SDM) lewat beberapa program.

"BPPT penguatan kelembagaan regulasi dengan mengedepankan visi dan misi. Serta tugas BPPT. Solid. BPPT mendorong sumber daya manusianya dengan mumpuni. Smart," jelasnya.

Lalu kunci terakhir untuk mengejar ketertinggalan adalah speed atau kecepatan. Oleh karena itu, pihaknya akan mendorong pembangunan teknologi untuk membantu mempercepat dan membantu program pemerintah.

"Ketiga adalah speed mendorong terbangunnya program flag ship-nya nasional di berbagai bidang teknologi," jelasnya.

Baca Juga: Sempat Sejajar, Kini Ekonomi Indonesia Tertinggal Jauh dari China dan Korsel

Hammam sendiri menyebut, selama ini BPPT tengah mengembangkan beberapa teknologi yang sudah bisa digunakan. Seperti teknologi pendeteksi bencana dan pengendali cuaca.

"Kebencanaan. Letak geografi Indonesia sering merugikan oleh karena itu perlu adanya teknologi untuk mengantisipasi dan memitigasi bencana," kata Hammam.

Kemudian, pihaknya juga berencana mengembangkan transportasi berbasis rel. Menurutnya, di negara maju transportasi umumnya sudah mayoritas menggunakan transportasi berbasis rel.

Saat ini sendiri sudah ada beberapa transportasi berbasis rel yang telah dikerjakan oleh pemerintah. Seperti proyek kereta semi cepat Jakarta - Bandung, Light Rail Transit (LRT) hingga kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang akan segera beroperasi

"Kereta api. Pola transportasi Indonesia ini masih didominasi oleh non rel, oleh karenanya perlu ada transportasi berbasis rel yang untuk mempercepat sistem pemerintah berbasis elektronik," jelasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini