Macet di Tol Jakarta-Cikampek hingga Pemudik Bakal Keluarkan Uang Rp10,3 Triliun

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 14 April 2019 09:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 13 320 2043129 macet-di-tol-jakarta-cikampek-hingga-pemudik-bakal-keluarkan-uang-rp10-3-triliun-onwCiO5NQD.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Tadashi Yanai menjadi orang terkaya di Jepang pada tahun ini versi majalah Forbes. Kekayaan Tadashi Yanai ini mencapai USD24,9 miliar atau setara Rp352,4 triliun.

Sementara itu, pada musim mudik lebaran nanti diprediksi kemacetan di Jakarta-Cikampek akan makin parah. Pasalnya, jalan tol layang Jakarta - Cikampek belum bisa dioperasikan.

Kepala Badan Litbang Kementerian Perhubungan Sugihardjo mengatakan, pada musim mudik Lebaran tahun ini diperkirakan pemudik yang berasal dari Jabodetabek akan menghabiskan uang sekitar Rp10,3 triliun.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Punya Rp352 Triliun, Miliarder Terkaya Jepang Berambisi Jadikan Uniqlo Terbesar di Dunia


Forbes telah merilis daftar 50 orang terkaya di Jepang tahun ini. Tadashi Yanai juaranya dengan melangkahi kekayaan bos Softbank Masayoshi Son.

Tadashi Yanai menjadi orang terkaya di Jepang dengan kekayaan mencapai USD24,9 miliar atau setara Rp352,4 triliun (kurs Rp14.155 per USD). Bos Uniqlo ini mencatatkan penambahan kekayaan terbesar tahun ini. Hartanya bertambah sebanyak USD5,6 miliar atau Rp79,2 triliun.

Sementara, Son menduduki peringkat kedua daftar orang terkaya di Jepang dengan kekayaan USD24 miliar atau setara Rp339,7 triliun. Demikian seperti dilansir Forbes, Kamis (11/4/2019).

Yanai kini berusia 70 tahun dan memiliki dua orang anak. Yanai membangun dan menjalankan kerajaan pakaian ritel terdaftar yang dinamai Fast Retailing, induk dari Uniqlo. Dia dan keluarganya memiliki 44% saham.

Fast Retailing juga memiliki dua ritel lainnya yakni J Brand dan Theory. Yanai mengandalkan bisnis di China dan Thailand untuk kawasan Asia dalam memasarkan Uniqlo.

Infrastruktur Belum Selesai, Macet Tol Cikampek Makin Horor


Horor kemacetan di jalur tol Jakarta- Cikampek akibat dampak sejumlah proyek infrastruktur belum juga bisa diatasi. Bahkan kondisinya kian parah. Hal ini dikhawatirkan berlanjut hingga masa liburan Lebaran nanti.

Sejumlah cara pun dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan di jalur tol terpadat di Indonesia itu. Salah satunya adalah wacana penerapan ganjil-genap saat musim mudik Lebaran, akhir Mei hingga awal Juni mendatang. Pihak otoritas perhubungan dan kepolisian menyampaikan bahwa penerapan ganjil-genap di tol Jakarta-Cikampek memungkinkan dilakukan. Sementara pihak operator dalam hal ini PT Jasa Marga (Persero) Tbk, juga tidak keberatan apabila aturan tersebut di berlakukan. Corporate Communication Department Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Irra Soenardi mengatakan, wacana kebijakan ganjil-genap di ruas tol Jakarta-Cikampek bisa saja diimplementasikan. Namun, hal itu harus dikoordinasikan bersama banyak pihak seperti kepolisian, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) serta Kementerian Per hubungan.

“Pada dasarnya kita siap saja mengikuti arahan dari pemerintah. Selama itu bisa mengurai kepadatan dan sesuai dengan arahan dari regulator jalan tol dan pihak terkait lainnya. Tapi ini belum ada omongan dan pemberitahuan,” ujar Irra di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, Jasa Marga telah memiliki perencanaan sendiri guna mengatasi kepadatan di ruas tol Jakarta-Cikampek menjelang masa mudik Lebaran 2019. Menurutnya ada beberapa langkah yang akan dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan, yakni peningkatan pelayanan transaksi, layanan lalu lintas, layanan konstruksi serta rest area. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, akan membicarakan lebih lanjut rencana penerapan ganjil-genap di tol Jakarta-Cikampek saat musim libur Lebaran mendatang.

“Tapi itu hasil rapat terakhir dengan pihak Korlantas Polri. Kalau toh akan diterapkan, pastinya akan ada kajian terlebih da - hulu. Karena kita melihat juga kayaknya masih terlampau dini,” kata Budi di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, pemerintah dalam hal ini Direktorat Per hubungan Darat Kemenhub telah membuat sejumlah alternatif mengantisipasi kepadatan pemudik roda empat di ruas tol. Di antaranya menerapkan contra flow, one way atau penerapan satu lajur dari dua lajur yang ada dengan waktu tertentu, pengalihan arus lalu lintas. Kementerian Perhubungan memprediksi, puncak arus mudik Lebaran tahun ini akan jatuh pada 31 Mei atau H-5 Lebaran, dengan perkiraan waktu ke berangkatan pukul 06.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB. Akan tetapi untuk kondisi tertentu ada potensi puncak mudik juga terjadi lebih awal yakni pada 29 atau 30 Mei 2019. Adapun untuk puncak balik diprediksi jatuh pada 9 Juni atau H+3 lebaran.

“Kami imbau juga, supaya masyarakat pemudik pengguna angkut an pribadi roda empat, supaya jangan terlalu bertumpu di jalur tol. Sebab, pilihan moda angkutan lain juga banyak, termasuk ketersediaan angkutan moda gratis bagi sepeda motor,” katanya. Diketahui, dalam dua tahun terakhir kemacetan di jalur tol Jakarta-Cikampek semakin menjadi-jadi sejak adanya proyek infrastruktur di wilayah itu. Setidaknya ada tiga proyek yang hingga saat ini masih berjalan, yakni tol Jakarta-Cikampek II Elevated, Light Rail Transit (LRT) dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Selain itu proyek lain yang sedang dikerjakan adalah pembangunan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu). Kemacetan ini disebabkan volume kendaraan yang padat hampir di setiap waktu. Kondisi ini terjadi tidak hanya di pagi atau sore hari.

Bahkan kemacetan parah juga kerap terjadi saat libur akhir pekan atau libur nasional. Ini membuat waktu tempuh para pengendara menjadi lebih lama. Misalnya saja, waktu tempuh dari tol TB Simatupang ke Simpang Susun Cikunir yang normalnya hanya 30 menit, kini bisa satu jam lebih. Yang terbaru, kemacetan parah terjadi pada Selasa (9/4) lalu dan Rabu (10/4). Pada Selasa lalu, kemacetan disebabkan adanya truk yang mogok tak jauh dari gerbang tol Cikunir 2 menuju Rorotan arah Jakarta. Imbasnya, lalu lintas pun macet total hingga tiga jam, dam berdampak pada jalur-jalur tol Cikampek dan sekitarnya serta jalan arteri di wilayah Bekasi. Sementara itu kemarin, kemacetan terjadi karena penyempitan lajur tol yang menuju arah Cikampek.

Berimbas ke Jalan Arteri

Kemacetan parah di jalan tol tersebut berdampak pada padatnya jalan arteri di Bekasi. Hal ini karena banyak pengendara roda empat memilih keluar tol untuk kemudian mengambil alternatif ke jalan-jalan arteri. Kondisi ini pun sempat di keluhkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi. Pasalnya kemacetan yang bermula dari jalur tol menjalar ke wilayah mitra DKI Jakarta tersebut. Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, kemacetan yang terjadi karena wilayahnya sedang banyak pembangunan proyek strategis nasional.

“Kemacetan di Kota Bekasi cukup signifikan dan tidak bisa dihindarkan, karena setiap pembangunan berdampak pada kemacetan, apalagi ada empat proyek strategis nasional yang sedang dikerjakan berbarengan,” katanya. Dia mengakui, kendati kerap dilanda kemacetan, pihaknya mendukung program pemerintah pusat. Tri juga mengaku, banyak menampung keluhan masyarakat soal kemacetan yang terjadi di wilayahnya. “Karena Bekasi itu strategis, jadi pembangunannya sangat pesat,” ungkapnya. Untuk minimalisasi kemacetan di tol yang berimbas ke jalan arteri, kata dia, pemerintah melalui Dinas Perhubungan melakukan tindakan dengan mengoptimalkan jaringan ruas jalan yang kerap timbul kemacetan.

Bahkan pemerintah juga melakukan pelarangan terhadap kendaraan berat lebih dari 8 ton dilarang melintas di jalan arteri Bekasi. Pengamat transportasi Universitas Indonesia (UI) Tri Tjahyono menilai, pengerjaan proyek di jalur tol Jakarta-Cikampek yang tak kunjung usai berdampak pada kejenuhan pengendara. Kondisi ini tak jarang menyebabkan buruknya sikap pengendara sehingga kerap terjadi aksi saling serobot jalur. “Ini karena kapasitasnya jalan turun secara ekstrim. Saya yakin enggak ada analisa dampak lalu lintas selama pembangunan,” katanya. Menurutnya, kemacetan akibat proyek ini tidak ada solusinya selain segera menyelesaikan pekerjaan tersebut. Seharusnya, kata dia, operator tol dan kontraktor harus bekerja dengan orientasi prioritas lalu lintas dan bukan proyek.

Tri menilai, proyek tersebut dikerjakan tanpa studi traffic management selama masa konstruksi. Hal ini berbeda dengan proyek yang dinilai cukup baik mengelola lalu lintas yakni pembangunan MRT Jakarta terutama di kawasan Sudirman. “Analisis dampak lalu lintas selama pembangunan harus dibuat dan ditaati,” tandasnya. Dia menyarankan, sebaiknya pihak yang berkepentingan memberikan informasi mengenai jadwal penyempitan jalan dengan baik, khususnya tol layang.

Solusi Macet Lebaran

Terkait rencana pengaturan lalu lintas menjelang libur Lebaran akhir Mei dan awal Juni mendatang, Jasa Marga telah menyiapkan sejumlah langkah. Di antaranya memaksimalkan pelayanan transaksi dengan menggeser Gerbang Tol (GT) dari arah Jakarta yakni Gerbang Tol Cikarang Utama di kilo meter (KM) 29 ke KM 70. “Kenapa, karena GT Cikarang Utama se ka rang sudah tidak representative lagi, akibat pembangunan Jakarta-Cikampek (Japek) Ele vated,” ujar Corporate Communication Department Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Irra Soenardi. Langkah lain adalah dengan mengoptimalisasi kapasitas lajur, memperhatikan pelayanan lalulintas serta menghentikan proyek konstruksi pada H- 10 Lebaran.

“Kita maksimalkan, zero portal, karena saat ada perbaikan jalan tak mengganggu jalan dan tak mengganggu aktivitas konstruksi yang berlangsung sebelum puncak mudik,” ungkapnya. Irra menambahkan, dari sisi pengaturan layanan lalu lintas, Jasa Marga akan memberikan panduan mengenai rest area yang tersedia. Diharapkan, masyarakat tidak terpaku pada rest area yang tersedia di ruas tol, namun juga rest area yang ada di luar tol namun tetap bisa terkoneksi ke jalur masuk tol.

“Makanya nanti akan kita terbitkan buku panduan yang di dalamnya ada kuliner khas. Jadi tidak harus di area tol, tetapi Area Wisata lain di luar tol. Jadi ketika mereka (pemudik) beristirahat di luar tol, bisa kembali masuk ke jalur tol setelahnya. Tentu nilai lebihnya banyak, kuliner khas dan area menarik lainnya,” pungkasnya.

Pemudik Jabodetabek Bakal Habiskan Rp10,3 Triliun


Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebut mudik Lebaran akan memberikan dampak ekonomi yang sangat besar. Utamanya pada ekonomi daerah, di mana perputaran uang diprediksi akan sangat tinggi.

Kepala Badan Litbang Kementerian Perhubungan Sugihardjo mengatakan, pada musim mudik Lebaran tahun ini diperkirakan pemudik yang berasal dari Jabodetabek akan menghabiskan uang sekitar Rp10,3 triliun.

Dari angka tersebut, diperkirakan sekitar 20,9% akan menghabiskan uang di lokasi mudik sebanyak Rp500.000 hingga Rp1.500.000. Sedangkan 20,1% menghabiskan dana sekitar Rp1.500.000 hingga Rp2.500.000.

"Untuk potensi ekonomi, total selama periode Lebaran para pemudik membelanjakan uangnya di daerah tujuan sebesar Rp10,3 triliun," ujarnya dalam acara konferensi pers di Hotel Harris, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Sugihardjo menambahkan, total dana pemudik Jabodetabek yang dihabiskan di lokasi mudik sebesar Rp10,3 triliun, dana terbanyak akan mengalir di wilayah Jawa Tengah sebesar Rp3,8 triliun. Kemudian Jawa Barat sebesar Rp2,05 triliun.

Sedangkan Jawa Timur sebesar Rp1,3 triliun. Sementara sisanya tersebar ke wilayah lain di Indonesia.

Di sisi lain, untuk total biaya transportasi yang dibutuhkan pemudik dari Jabodetabek ke tujuan mudik sebesar Rp6 triliun. Terbanyak ke Jawa Barat Rp945 miliar dan ke Jawa Timur Rp791 miliar.

"Paling banyak mengalir di tujuan Jawa Tengah Rp3,8 triliun, Jawa Barat Rp2 triliun, itu di luar biaya transportasi," ucapnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini