nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

China Minta Trump Hapus Tambahan Tarif Impor

Minggu 12 Mei 2019 16:25 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 12 213 2054700 china-minta-trump-hapus-tambahan-tarif-impor-IEzivnMkeN.jpg Foto: Reuters

JAKARTA - Tanda-tanda belum meredanya perang dagang antara Amerika Serikat dengan China kembali muncul. Hal tersebut menyusul ucapan dari Presiden Amerika Serikat yang akan mengenakan tarif bea masuk impor terhadap barang-barang China.

Seperti diketahui, Trump sendiri secara resmi menginstruksikan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer untuk memulai proses penerapan tarif impor untuk sisa barang-barang China. Tak tanggung-tanggung Amerika Serikat menaikkan tarif impor untuk barang-barang dari Cina menjadi 25% dari sebelumnya hanya 10%.

Mengutip Inews.id dari halaman CNN Money, Wakil Perdana Menteri dan kepala perunding perdagangan China Liu He mengatakan, Amerika Serikat (AS) harus menghapus semua tarif tambahan sebelum kesepakatan perdagangan dapat dicapai.

Liu mengatakan AS harus menetapkan target pembelian barang-barang China sesuai dengan permintaan riil dan teks dari kesepakatan yang seimbang untuk memastikan keadilan bagi kedua negara.

Dia menambahkan kedua pihak akan bertemu lagi di Beijing untuk melanjutkan negosiasi dan pihaknya optimistis tentang hasil di masa depan. AS meningkatkan sengketa perdagangan dengan China pada Jumat dengan menaikkan tarif dari 10% menjadi 25% terhadap barang senilai sekitar 200 miliar AS.

Sikap keras Trump muncul ketika kedua negara tidak mencapai kesepakatan yang berarti dari batas negosiasi akhir April.

Trump mengatakan di Twitter pada pekan ini bahwa Beijing melanggar kesepakatan setelah berbulan-bulan menjalankan negosiasi. Dia juga melihat Beijing terkesan tak ingin buru-buru menyelesaikan sengketa perdagangan.

Otoritas China dalam sebuah pernyataan menyesalkan harus membalas tindakan yang telah dijalankan pemerintahan AS. Namun, Beijing lebih memilih menunda pembalasan dan tidak segera menyiapkan kebijakan serupa dengan AS.

Meningkatnya perselisihan perdagangan yang lama menyebabkan volatilitas di pasar saham AS. Indeks Dow mencatat pekan terburuk sejak Maret. Untuk S&P 500 dan Nasdaq, ini adalah yang terburuk sejak Desember. Saham global juga terbanting.

Li mengatakan kepada media China pada hari Jumat bahwa kerja sama adalah pilihan yang tepat karena AS dan China memiliki kepentingan bersama. Seorang juru bicara Departemen Keuangan mengatakan kepada CNN AS-China bisa mencapai kesepakatan di masa depan.

"Kita bisa sepakat untuk melakukan pembicaraan di masa depan tanpa ada sesuatu yang dikonfirmasi," ujarnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini