nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang Dagang Memanas, Sarung Tangan Karet RI Bisa Geser Produk China

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 27 Mei 2019 15:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 27 320 2060873 perang-dagang-memanas-sarung-tangan-karet-ri-bisa-geser-produk-china-FRfgU7q3Yv.jpg Foto: Perang Dagang Untungkan Pasar Sarung Tangan Karet

JAKARTA - Perang Dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China memberikan berkah bagi industri sarung tangan karet, menyusul hambatan masuk berupa kenaikan tarif impor yang diberlakukan AS kepada produk China dari 10% menjadi 25%.

Hal ini membuat industri sarung tangan karet berpotensi menggeser pasar sarung tangan Vinyl dan Nitrile produksi China yang saat ini menguasai 44% impor sarung ke AS.

Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk Ridwan Goh mengatakan, perang dagang dengan tarif impor yang tinggi ke AS atas produk China akan menggeser peta pasar sarung tangan AS.

“Pemasok utama sarung tangan akan bergeser dari China ke Malaysia sebagai produsen sarung tangan karet terbesar di dunia. Secara tidak langsung hal ini akan menjadi sinyal positif bagi kinerja Perseroan," kata Ridwan dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (27/5/2019).

 Baca Juga: Bank Sentral China: Perang Dagang Ancam Ekonomi Dunia

Ridwan menyatakan Perseroan sebagai pemasok utama cetakan sarung tangan karet dunia memperoleh dampak turunan dari potensi peningkatan pasar sarung tangan karet. Saat ini Perseroan memasok global terbesar pasar sarung tangan adalah Malaysia dengan 63%, diikuti Thailand dengan 18%, China 10% dan kontribusi langsung Indonesia hanya 3%.

Dengan kenaikan bea masuk, harga sarung tangan dari China menjadi tidak kompetitif dan sesuai hasil riset dari sebuah sekuritas di Malaysia rentang harga antara sarung tangan vinyl dan karet akan menyempit dari posisi saat ini dengan rentang diskon harga antara 75% hingga 130%.

"Yang lebih penting, Perseroan diuntungkan dari perang dagang ini karena sebagai pemasok 35% pasar cetakan sarung tangan karet dunia, dengan pasar utama Malaysia, Perseroan akan menerima permintaan yang lebih besar," kata Ridwan, seraya menambahkan Perseroan saat ini masih memiliki ruang ekspansi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar.

 Baca Juga: Ketegangan Perang Dagang Meningkat, China dan AS Mulai Saling Serang

Pasar sarung tangan karet hingga tahun 2019 diwarnai banyak hal positif selain perang dagang, yaitu pergeseran perhatian masyarakat dunia dalam penggunaan sarung tangan kesehaatan. Sarung tangan karet yang lebih aman bagi kesehatan perlahan tapi pasti menggeser produk sarung tangan lainnya, salah satunya dengan ditutupnya pabrik sarung tangan PVC di China pada tahun 2017. Pereeroan sendiri saai ini beroperasi pada tingkat produksi 610.000 cetakan per bulan.

Kemampuan produksi Perseroan dibuktikan dengan pencapaian triwulan pertama tahun 2019 mencaiai peningkatan penjualan sebesar, 12,22% menjadi Rp88,06 miiiar dibanding periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp78,47 miliar.

Kemudian untuk posisi laba komprehensif tercatat meningkat 26,48% menjadi Rp 23,00 miliar per 31 Maret 2019 dibandingkan Rp 18,19 miliar per 31 Maret 2018. Sebesar 90,76% pendapatan Perseroan pada triwulan pertama tahun 2019 berasal dari pasar ekspor, dan sisanya sebesar 9,24% untuk pasar domestik.

"Kontribusi ekspor kami pada triwulan pertama tahun 2019 mengalami penurunan secara persentase dari 97,82% menjadi 90,76%. Namun secara nilai pasar ekspor mengalarni peningkatan, yang menunjukkan bahwa kami tetap dapat memenuhi kebutuhan ekspor yang diiringi dengan peningkatan pasar baru di dalam negeri," ungkap Ridwan.

Lebih jauh Ridwan menyatakan pencapaian pada tiga bulan pertama tahun 2019 ini menunjukkan konsistensi Perseroan dalam mentapkan rencana dan strategi pengembangan bisnis. Dalam laporan tahunan 2018 disampaikan bahwa pada tahun 2019 Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba komprehensif masing-masing sebesar 12% dan 22%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini