nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Laba Maskapai Penerbangan Turun 21% Akibat Perang Dagang AS-China

Minggu 02 Juni 2019 18:13 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 02 213 2063153 laba-maskapai-penerbangan-turun-21-akibat-perang-dagang-as-china-3THry3Rqxw.jpg

JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta kenaikan harga minyak dunia bisa merembet kepada industri penerbangan. Bahkan diperkirakan karena dua hal tersebut, perolehan laba industri penerbangan secara global tahun ini diperkirakan terpangkas hingga 21%.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association/IATA) yang mewakili sekitar 290 maskapai atau lebih dari 80% lalu lintas udara global, menyebut industri ini diperkirakan akan membukukan laba USD28 miliar (sekitar Rp392 triliun) pada 2019. Angka ini mengalami penurunan dari perkiraan Desember sebesar USD35,5 miliar (sekitar Rp497 triliun).

"Maskapai masih akan mendapat untung tahun ini, tetapi tidak ada uang yang mudah didapat," ujar Direktur Jenderal IATA Alexandre de Juniac pada pertemuan tahunan organisasi tersebut di Seoul, Korea Selatan,mengutip Sindonews dari halaman Reuters, Minggu (2/6/2019).

e Juniac mengatakan, perkiraan itu berkaitan dengan agenda politik proteksionis atau isolasionis yang sedang meningkat. Di bagian lain, capaian keuntungan maskapai menurut para ekonom merupakan salah satu indikator untuk mendeteksi tren kepercayaan konsumen dan perdagangan global.

Pasar saham global terpuruk pada hari Jumat (31/5) setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menerapkan tarif atas barang-barang impor asal Meksiko. Hal itu menambah kekhawatiran akan meningkatnya perang dagang yang akan mendorong AS dan ekonomi utama dunia lainnya ke dalam resesi.

Maskapai global tahun lalu melaporkan perolehan laba tahunan sekitar USD30 miliar. Akan tetapi, kondisi di pasar kargo udara yang merupakan sumber pendapatan tambahan untuk operator telah melemah secara substansial.

"Anda melihat bahwa perdagangan internasional sekarang berada pada tingkat pertumbuhan nol, sehingga ada dampak langsung pada bisnis kargo kami," kata de Juniac.

Pertumbuhan kapasitas penumpang yang mencapai 6,9% pada 2019 diperkirakan melambat menjadi 4,7% tahun ini. Sementara tarif rata-rata mendatar setelah terjadi penurunan sebesar 2,1% pada 2018.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini