nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selain Sekawan Intipratama, Ada 2 Emiten Lagi yang Berpotensi Delisting

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 17 Juni 2019 15:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 17 278 2067379 selain-sekawan-intipratama-ada-2-emiten-lagi-yang-berpotensi-delisting-sVdd3rnLzF.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus pencatatan efek saham PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) atau delisting mulai hari ini, Senin (17/6/2019). Saham perusahaan yang memiliki kegiatan usaha utama penambangan batu bara itu sudah tidak diperdagangkan selama 44 bulan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyatakan, fokus BEI pada masalah perusahaan tercatat meliputi dua hal. Pertama going concern yang terdiri dari masalah legal dan operasional dan kedua adalah masalah transaksi saham di pasar reguler.

"Perusahaan tercatat ada masalahnya yakni seperti legal maupun operasional, kemudian tidak ditransaksikan di pasar regular dan tunai selama 24 bulan. Nah kalau perusahaan ini (SIAP) sudah 44 bulan tidak diperdagangkan," ujarnya di Gedung BEI, Senin (17/6/2019).

Baca Juga: Anak Usaha Dewata Freight Bidik Kontrak Rp100 Miliar

Menurutnya, BEi sudah melakukan upaya monitoring untuk perusahaan bisa melakukan perbaikan bisnis, agar saham dapat kembali diperdagangkan. Namun perbaikan itu selalu gagal hingga akhirnya keputusan delisting diberikan otoritas bursa.

"Pada titik tertentu kami harus tegas, buat sekian proses kami lihat enggak ada perkembangan, maka diputuskan untuk delisting," ungkapnya.

Selain SIAP, Nyoman menyatakan, masih ada dua perusahaan tercatat yang kemungkinan akan terkena delisting. Perusahaan tersebut adalah PT Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN) dan PT Bara Jaya Internasional Tbk (ATPK).

Baca Juga: Irfan Bachdim Cs Antusias Borong Saham Bali United

"Kedua perusahaan sudah masuk ke 24 bulan," katanya.

Dia menjelaskan, untuk BORN persoalannya terkait masalah legal sehingga operasional perusahaan tersebut terganggu. Sedangkan, ATPK belum memiliki rencana untuk memperbaiki bisnisnya ke depan.

"Tapi memang ujungnya sama, dua-duanya enggak jalan juga. Satu enggak ada ide dan yang satu ada ide tapi terbatas ruang geraknya. Artinya sama saja, tidak bisa menunjukan perbaikan yang kita harapkan," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini