nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Punya Ruang Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,75%

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 20 Juni 2019 10:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 20 20 2068618 bi-punya-ruang-turunkan-suku-bunga-acuan-jadi-5-75-R0fiQgPrP6.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dinilai masih punya ruang untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps dari 6% menjadi 5,75% dengan menimbang arah ekspektasi inflasi domestik yang masih terkendali sesuai jangkar 3,5% plus minus 1%.

Namun, alasan utamanya bukan karena bank-bank sentral negara negara lain sudah terlebih dahulu menurunkan suku bunga acuan, termasuk peluang the Fed juga turunkan Fed Rate di pertemuan FOMC Juli atau September nanti. Akan tetapi memang karena kondisi makroekonomi domestik yang mendukung.

"Kondisi tersebut di antaranya karena inflasi terkendali di level rendah. Lalu perbaikan daya saing (EODB) dari IMD 2019 serta perbaikan rating utang Indonesia dari BB+ menjadi BBB dgn outlook stabil dari S&P yang menunjukkan Indonesia sudah fully investment grade," ujar Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto di Jakarta.

 Baca Juga: The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan

Selain itu, posisi cadangan devisa yang USD 120 miliar atau setara 7 bulan impor dan bayar utang luar negeri pemerintah masih memadai. Sektor riil dan perbankan dirasa butuh stimulus dari jalur suku bunga untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi supaya Indonesia tidak kehilangan momentum mendongkrak pertumbuhan lebih tinggi di 2020 nanti.

Selanjutnya, pendalaman pasar keuangan terus dilakukan oleh BI seiring dengan outlook perekonomian nasional yang tetap tumbuh positif. "Kebijakan makroprudensial dan bauran kebijakan sudah disiapkan oleh BI untuk membentengi dampak negatif penurunan suku bunga acuan atau BI7DRRR. Sehingga hal ini akan mencegah potensi capital outflows, lebih-lebih bank-bank sentral negara lain sudah menurunkan suku bunga acuannya terlebih dahulu," terang Ryan.

 Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, BI?

Hanya saja lanjut dia, sekarang ini dengan pertimbangan CAD atau defisit transaksi berjalan yang masih lebar (mengarah ke 3% dari PDB) dan tekanan ke Neraca Pembayaran Indonesia, maka peluang BI turunkan suku bunga acuan ke 5,75% versus menahan suku bunga acuan di 6% menjadi fifty-fifty.

Artinya, bisa saja BI tidak turunkan BI rate, tapi bisa juga turunkan BI rate 25 bps ke 5,75%. Jadi BI memang berada di situasi dilematis karena harus memilih turunkan BI rate atau tetap menahan BI rate ada konsekuensinya masing-masing. Dengan kata lain, BI punya dua opsi yang sama-sama penting.

"Kalau saya boleh memutuskan, sebaiknya BI tetap menahan BI rate di RDG BI Juni ini karena tekanan eksternal (trade war, Brexit dan risiko geopolitik) masih kuat dan RDG BI baru turunkan BI rate di RDG Juli nanti sambil mencermati keputusan The Fed di Juli yang mungkin akan turunkan FFR 25 bps ke 2,0-2,25%," jelas dia.

Sikap seperti ini dinilai tepat dimana BI tetap ahead the curve jelang the Fed turunkan FFR di Juli atau selambatnya di September nanti. Untuk menstimulasi perekonomian, BI masih bisa menggunakan jurus kebijakan makroprudensialnya yang direlaksasikan.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah juga meyakini BI masih akan mempertahankan suku bunga. "Risiko nya terlalu besar untuk rupiah kalau BI menurunkan suku bunga," ujarnya kemarin.

Sementara Peneliti Indef Bhima Yudhistira memperkirakan, BI akan akan menurunkan bunga acuan 25 bps. Hal ini sejalan dengan perkiraan The Fed yang akan pangkas bunga di Rapat FMOC Juni ini. "Selama 1 tahun terakhir BI sudah pro stabilitas dengan naikan bunga acuan. Sekarang saatnya pro sektor riil," katanya kemarin.

Dengan bunga yang lebih rendah, cost of borrowing atau biaya peminjaman sektor usaha akan lebih ringan. Pertumbuhan kreditnya lebih tinggi dan bisa menstimulus pertumbuhan ekonomi yang lebih baik diatas ekspektasi pasar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini