nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Sebut Manufaktur Jadi Biang Kerok Ekonomi RI Tertahan di 5%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 04 September 2019 11:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 04 20 2100472 bi-sebut-manufaktur-jadi-biang-kerok-ekonomi-ri-tertahan-di-5-6eLJeFsCpr.jpg Dody Budi Waluyo (Foto: Okezone.com/Yohana Artha Uly)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai industri manufaktur nasional yang tidak berkembang secara baik membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tertahan di level kisaran 5% setiap tahunnya. Tahun ini pertumbuhan ekonomi pun dipatok mencapai 5,2% oleh pemerintah, dibawah target dalam APBN 2019 yang 5,4%.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyatakan, pertumbuhan sektor manufaktur nasional di kuartal II-2019 hanya tumbuh di kisaran 3,62%. Hanya separuh dari pertumbuhan normal sektor manufaktur yang seharusnya 6%-7%.

 Baca juga: Prediksi Ekonomi RI di 2019 Jadi 5,08%, Menko Darmin: Masih Ada Ketidakpastian Global

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan di kuartal II-2019 itu melambat dibandingkan kuartal II-2018 yang tumbuh 4,36%. Pada periode yang sama pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,05%, melambat dari kuartal II-2018 yang sebesar 5,27% yoy.

Dody Waluyo (Okezone)

Bercermin dengan kondisi tersebut, menurutnya, tak aneh bila pada akhirnya pertumbuhan ekonomi sulit untuk tumbuh di atas 5%. Perlu upaya lebih untuk mendorong sektor manufaktur sehingga lebih memacu laju ekonomi.

 Baca juga: Menko Darmin: Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa Dikategorikan Baik

"Tidak salah kalau ekonomi kita akan tumbuh di kisaran hanya sekitar 5% untuk di tahun 2019 ini. Jadi ini tantangan yang besar bagaimana kita bisa dorong sektor manufaktur untuk terus tumbuh," ujarnya dalam membuka seminar nasional terkait pengembangan industri dalam negeri di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Dia menjelaskan, ada beberapa permasalahan yang harus ditangani dalam mendorong sektor manufaktur. Pertama soal meningkatkan value chain dalam negeri. Menurutnya, banyak industri unggulan Indonesia yang belum saling terhubung dengan industri lainnya. Terutama yang produk pendukungnya ada di Tanah Air.

 Baca juga: Potensi Ekspor Buah Tinggi, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Capai 5,3%

"Seperti industri otomotif, yang produksinya cenderung dimanfaatkan untuk ekspor ke luar negeri, dibandingkan untuk dukung sektor industri dalam negeri," jelas dia.

Kemudian soal mendorong produk unggulan manufaktur yang akan di dorong untuk bersaing di pasar global. Menurutnya, di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia perlu menentukan prioritas produk, tak bisa keseluruhan secara bersamaan. BI melihat potensi itu ada pada produk tekstil, otomotif, dan alas kaki.

"Itu berdasarkan kriteria yang kami lihat memiliki daya saing paling kuat dalam kompetisi pasar global. Serta dilihat dari sisi bagaimana produk itu mendorong adanya devisa yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi," jelas dia.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini